-->

Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Basukesti Seda

Kisah ini menceritakan meninggalnya Prabu Basukesti karena terkena tenung yang dikirimkan oleh seorang pendeta raksasa bernama Resi Daksotama. Kisah dilanjutkan dengan pelantikan Raden Basutara sebagai raja Wirata yang baru, bergelar Prabu Basukiswara.

Kisah ini saya perbaiki dari yang dulu pernah saya posting, dengan memadukan Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita dan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 20 Januari 2016

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Basukesti

PERKAWINAN RADEN BASUTARA DENGAN DEWI WASTU

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata dihadap putra mahkota Raden Basutara beserta para menteri dan punggawa, antara lain Patih Jayaloka, Empu Purbageni, Arya Sriati, dan Arya Manungkara. Mereka membahas rencana pernikahan Raden Basutara yang kedua setelah ditinggal mati istrinya, yaitu Dewi Retnadi. Adapun Dewi Retnadi telah meninggal dunia ketika melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Basuketi.

Kini, Prabu Basukesti telah meminang sepupu Dewi Retnadi sebagai calon istri Raden Basutara, yaitu Dewi Wastu, putri Resi Etudarma dari Padepokan Andongsari. Adapun Padepokan Andongsari dulunya adalah tempat tinggal Resi Artaetu (ayah mendiang Dewi Retnadi). Setelah Resi Artaetu menjadi raja di Medang Kamulan, bergelar Prabu Maheswara, Padepokan Andongsari pun ditempati oleh adiknya, yaitu Resi Etudarma tersebut.

Resi Etudarma pun telah membalas lamaran Prabu Basukesti yang pada intinya ia setuju apabila putrinya menjadi istri Raden Basutara. Maka, pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah rombongan pengantin pria menuju ke Padepokan Andongsari.

Upacara pernikahan antara Raden Basutara dan Dewi Wastu digelar sederhana. Selain Resi Etudarma selaku tuan rumah, hadir pula dalam acara itu Prabu Maheswara, Resi Darmahanara, dan juga Resi Sakra.

PRABU BASUKESTI BERTEMU RAKSASA HIJAU

Sebulan kemudian, Prabu Basukesti berkunjung ke Padepokan Andongsari untuk memboyong putra dan menantunya ke istana. Yang ikut mendampingi dirinya adalah Patih Jayaloka dan Arya Manungkara.

Resi Etudarma menyambut kedatangan besannya dengan ramah. Setelah dirasa cukup, berangkatlah rombongan pengantin menuju ke Kerajaan Wirata. Adik pengantin putri yang bernama Bambang Wasita ikut serta karena ia ingin mengabdi di istana. Prabu Basukesti berkenan menerimanya sebagai punggawa, dengan bergelar Arya Wasita.

Ketika rombongan pengantin baru tersebut sampai di Desa Granting, tiba-tiba muncul sekelompok raksasa menghadang mereka. Pemimpin kawanan tersebut berwujud raksasa hijau bernama Ditya Hinu, yang mengaku putra dari Resi Daksotama, seorang pendeta raksasa di Gunung Kapanapanta. Adapun Resi Daksotama adalah putra Prabu Pratipaksa dari Kerajaan Tiswa di tanah seberang. Prabu Pratipaksa ini masih keturunan dewa, yaitu putra Batara Yaksaka, atau cucu Batara Kuwera.

Ditya Hinu sengaja menghadang rombongan Prabu Basukesti untuk menguji kesaktiannya. Raksasa hijau itu bercerita bahwa di sekitar Gunung Kapanapanta tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya dalam adu kekuatan. Ia kemudian mendengar berita bahwa Kerajaan Wirata dipimpin seorang raja yang memiliki kesaktian tinggi, bernama Prabu Basukesti. Maka itu, ia pun bermaksud datang ke Wirata untuk menantang Prabu Basukesti adu kekuatan. Namun, karena menurut kabar Prabu Basukesti sedang berada di Padepokan Andongsari untuk menjemput putra dan menantu barunya, maka Ditya Hinu dan kawan-kawan pun  memutuskan untuk menunggu di Desa Granting.

DITYA HINU DIUBAH MENJADI ARCA BATU

Prabu Basukesti bertanya apa sebenarnya tujuan Ditya Hinu menantang banyak orang untuk adu kekuatan. Apakah ia ingin memangsa mereka? Ditya Hinu menjawab bahwa itu tidak benar. Menurutnya, bangsa raksasa terdiri atas lima golongan, yaitu raksasa hijau, putih, kuning, merah, dan hitam. Golongan raksasa hijau seperti Ditya Hinu tidak memangsa manusia, begitu pula kaum raksasa putih. Sementara itu, golongan raksasa kuning meskipun tidak memangsa manusia, tetapi mereka suka mengganggu dan berbuat jahil. Adapun yang jahat dan suka memangsa manusia adalah golongan raksasa merah dan hitam. Itulah sebabnya dahulu kala Batara Wisnu pernah menitis kepada cucunya yang berwujud raksasa hitam, bernama Resi Wisnungkara. Tujuannya ialah, Batara Wisnu ingin mengajarkan kebaikan kepada golongan raksasa merah dan hitam supaya mereka tidak menjadi sampah dunia.

Prabu Basukesti menerima penjelasan Ditya Hinu. Ia pun memerintahkan para punggawanya untuk bertanding adu kekuatan melawan raksasa hijau tersebut. Yang maju pertama adalah Gajah Bajradenta, bekas pengikut Prabu Daneswara di Kerajaan Medang Kamulan dulu. Setelah adu kekuatan beberapa jurus, Gajah Bajradenta tewas di tangan Ditya Hinu.

Prabu Basukesti lalu memerintahkan Ditya Margana yang juga bekas pengikut Prabu Daneswara untuk maju menghadapi Ditya Hinu. Keduanya bertarung seru dan berakhir pula dengan kematian Ditya Margana. Melihat sang pemimpin tewas, para prajurit raksasa Wirata pun maju mengeroyok Ditya Hinu. Namun, justru mereka sendiri yang jatuh berguguran menghadapi kekuatan raksasa hijau tersebut.

Ditya Hinu sangat senang karena bisa mengalahkan pasukan raksasa Kerajaan Wirata. Dengan sikap sombong ia pun menantang Prabu Basukesti bertarung. Prabu Basukesti lalu melirik dan berkedip ke arah Arya Manungkara. Sang menantu paham dan segera mempersiapkan pusakanya, yaitu Minyak Manihara. Prabu Basukesti lalu maju menghadapi Ditya Hinu. Sebelum bertanding ia berkata bahwa dirinya sudah tua, sehingga jika nanti ia kelelahan dan mundur, maka Arya Manungkara yang akan maju melanjutkan pertarungan.

Ditya Hinu mengangguk setuju. Prabu Basukesti pun maju menghadapi raksasa hijau tersebut. Pertarungan pun terjadi. Meskipun sudah tua, namun Prabu Basukesti masih cukup lincah dan membuat kagum para prajurit yang melihatnya. Setelah belasan jurus, raja Wirata itu melompat mundur, dan pada saat itulah Arya Manungkara menerjang secepat kilat lalu mengoleskan Minyak Manihara ke tubuh Ditya Hinu. Seketika tubuh Ditya Hinu pun berubah menjadi arca batu akibat serangan mendadak tersebut.

Melihat pemimpin mereka menjadi patung, para raksasa pengikut Ditya Hinu pun maju mengamuk menyerang Arya Manungkara. Patih Jayaloka dan Arya Wasita segera maju membantu menghadapi para raksasa tersebut. Pertempuran sengit pun terjadi. Hampir semua raksasa itu tewas atau menjadi patung. Satu-satunya yang selamat dan berhasil melarikan diri adalah Ditya Drestaka, sahabat Ditya Hinu.

Setelah keadaan tenang kembali, Prabu Basukesti pun memerintahkan para prajurit untuk mengangkut patung raksasa penjelmaan Ditya Hinu tersebut menuju Kerajaan Wirata sebagai pajangan di sana.

RESI DAKSOTAMA MENGIRIM TENUNG KE KERAJAAN WIRATA

Ditya Drestaka telah kembali ke Gunung Kapanapanta dan menghadap sang guru, yaitu Resi Daksotama. Ia bercerita bahwa Ditya Hinu telah kalah bertarung melawan Prabu Basukesti raja Wirata. Sebenarnya Resi Daksotama sangat kesal terhadap ulah Ditya Hinu yang sering berbuat onar, suka menantang semua orang yang dijumpainya untuk adu kekuatan. Ia berharap semoga kekalahan ini bisa membuat putranya sadar bahwa di dunia ini masih banyak orang lain yang lebih kuat darinya.

Ditya Drestaka kecewa dan ia pun memanas-manasi gurunya agar turun tangan membalas dendam kepada pihak Wirata. Ia berkata bahwa Ditya Hinu sekarang sudah tewas dan mayatnya diubah menjadi patung batu untuk dijadikan tontonan di Kerajaan Wirata. Resi Daksotama sangat terkejut mendengarnya. Ia pun termakan hasutan Ditya Drestaka dan kini menjadi sangat marah terhadap orang-orang Wirata.

Resi Daksotama lalu mengeluarkan pusakanya yang berupa kalung mutiara, bernama Hurug Mutrika. Setelah membaca mantra, dari pusaka tersebut keluar semacam tenung yang kemudian dikirim menuju Kerajaan Wirata.

KEMATIAN PRABU BASUKESTI DAN PATIH JAYALOKA

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata sama sekali tidak menyadari datangnya bahaya. Akibat tenung yang dikirimkan Resi Daksotama, seketika terjadilah wabah penyakit melanda lingkungan istana. Banyak para prajurit yang jatuh sakit dan meninggal dunia. Tidak terkecuali Prabu Basukesti dan Patih Jayaloka juga ikut sakit tertular wabah tersebut.

Setelah dirawat beberapa hari, Prabu Basukesti dan Patih Jayaloka akhirnya meninggal dunia. Seisi istana sangat sedih, terutama Raden Basutara sang putra mahkota yang sangat berduka.

Arya Manungkara yakin kalau wabah penyakit ini pasti ada hubungannya dengan Ditya Hinu. Ia lalu meminta izin kepada Raden Basutara untuk mengembalikan wujud Ditya Hinu seperti sediakala supaya bisa ditanyai. Raden Basutara mengizinkan. Arya Manungkara segera mengusapkan Minyak Muksala pada patung batu perwujudan Ditya Hinu tersebut. Seketika raksasa hijau itu pun kembali ke wujud asalnya. Ia melihat suasana mencekam sedang menyelubungi istana Kerajaan Wirata dan ia pun mengatakan bahwa ini adalah akibat tenung yang dikirim ayahnya, yaitu Resi Daksotama.

Merasa puas karena kekalahannya telah terbalas, Ditya Hinu pun melesat pergi secepat kilat meninggalkan Kerajaan Wirata.

RADEN BASUTARA BERANGKAT MENYERANG GUNUNG KAPANAPANTA

Kini jelas sudah bahwa Prabu Basukesti dan Patih Jayaloka telah meninggal dunia akibat perbuatan pengecut Resi Daksotama yang mengirim tenung. Ia pun memerintahkan Arya Manungkara, Arya Sriati, dan Arya Wasita untuk mempersiapkan pasukan sebanyak-banyaknya guna menyerbu Gunung Kapanapanta.

Raden Basutara lalu berpamitan kepada istrinya, yaitu Dewi Wastu yang kini sedang hamil, bahwa ia akan pergi mengobrak-abrik Gunung Kapanapanta. Ia besumpah bahwa dirinya tidak mau menjadi raja Wirata sebelum bisa mengalahkan Resi Daksotama.

RESI DAKSOTAMA MENYADARI KEKELIRUANNYA

Sementara itu, Resi Daksotama di Gunung Kapanapanta sangat gembira melihat Ditya Hinu pulang dengan selamat. Kini ia merasa berdosa karena terlanjur percaya pada laporan Ditya Drestaka bahwa putranya itu telah tewas dan mayatnya diubah menjadi patung untuk dipertontonkan di istana Kerajaan Wirata. Akibat laporan tersebut, dirinya telah mengirim tenung yang mengakibatkan Prabu Basukesti dan Patih Jayaloka meninggal dunia.

Ditya Drestaka datang melapor bahwa Raden Basutara dan pasukannya kini telah mengepung Gunung Kapanapanta dan ia menjamin bahwa laporannya kali ini tidak mungkin salah. Ditya Hinu sangat marah mendengarnya dan meminta izin kepada sang ayah untuk menghadapi serangan tersebut. Resi Daksotama melarang dengan tegas. Ia tidak ingin peristiwa ini diperpanjang karena hanya akan menjatuhkan banyak korban. Ia tidak ingin penduduk di sekitar Gunung Kapanapanta yang tidak tahu apa-apa ikut tewas atau terluka jika perang ini benar-benar terjadi antara dirinya melawan Raden Basutara.

Resi Daksotama pun menasihati Ditya Hinu agar tidak lagi mengumbar kesombongan, karena terbukti putranya itu kalah melawan Arya Manungkara. Ditya Hinu pun menyadari kekeliruannya dan ia berjanji tidak akan lagi menantang orang lain adu kekuatan. Setelah putranya berjanji demikian, Resi Daksotama lalu mengheningkan cipta memohon kepada Yang Mahakuasa agar Gunung Kapanapanta dihindarkan dari bencana peperangan.

Doa Resi Daksotama dikabulkan. Seketika terjadilah perubahan besar pada Raden Basutara dan pasukannya. Tadinya mereka mengepung Gunung Kapanapanta, entah mengapa tiba-tiba saja kini berubah menjadi mengepung istana Wirata.

RESI DAKSOTAMA MENYERAHKAN HURUG MUTRIKA

Selagi Raden Basutara dan pasukannya terheran-heran mengapa tiba-tiba mereka mengepung istana sendiri, datanglah Resi Daksotama dan Ditya Hinu menyerahkan diri. Resi Daksotama meminta maaf kepada Raden Basutara karena telah mengirimkan tenung yang membuat Prabu Basukesti dan beberapa lainnya meninggal dunia. Di hadapan para prajurit Wirata tersebut, Resi Daksotama menyatakan dirinya menyerah kalah kepada Raden Basutara.

Resi Daksotama lalu menarik kembali tenung yang menyelubungi istana Wirata dan memasukkannya ke dalam kalung pusaka Hurug Mutrika. Sebagai tanda ketulusannya, ia pun menyerahkan Hurug Mutrika kepada Raden Basutara. Sebenarnya Raden Basutara sangat marah dan ingin menghukum mati Resi Daksotama. Akan tetapi, melihat ketulusan pendeta raksasa tersebut ia menjadi luluh dan memaafkannya. Namun demikian, ia meminta supaya Resi Daksotama dan Ditya Hinu meninggalkan Tanah Jawa karena jika melihat mereka bisa-bisa kenangan atas kematian Prabu Basukesti bangkit kembali.

Resi Daksotama dan Ditya Hinu berterima kasih atas kemurahan hati Raden Basutara. Resi Daksotama pun mendoakan semoga Raden Basutara bisa menjadi raja yang baik dan memimpin Tanah Jawa dengan adil bijaksana. Setelah berkata demikian, Resi Daksotama dan Ditya Hinu mohon pamit pergi meninggalkan mereka. Kedua ayah dan anak itu menyatakan bahwa mereka akan kembali ke negeri asal-usul mereka, yaitu Kerajaan Tiswa di tanah seberang.

RADEN BASUTARA MENJADI RAJA WIRATA

Demikianlah, keadaan kini kembali aman dan tenteram. Pada hari yang dianggap baik, Raden Basutara pun dilantik menjadi raja Wirata yang baru, bergelar Prabu Basukiswara. Sebagai menteri utama untuk menggantikan Patih Jayaloka yang telah meninggal, Prabu Basukiswara pun menunjuk sang kakak ipar, yaitu Arya Manungkara supaya menduduki jabatan tersebut.

Akan tetapi, Arya Manungkara menolak dengan halus. Ia merasa tidak pantas memegang jabatan patih karena dirinya ikut bersalah telah mengubah Ditya Hinu menjadi patung. Akibatnya, Resi Daksotama marah dan mengirimkan tenung ke istana Wirata. Atas kejadian itu, Arya Manungkara merasa bahwa dirinya ikut berdosa menjadi penyebab kematian Prabu Basukesti dan Patih Jayaloka.

Prabu Basukiswara lalu menunjuk Arya Sriati sebagai patih, namun Arya Sriati juga merasa keberatan. Arya Sriati dan Arya Manungkara lalu mengusulkan agar Arya Wasita saja yang diangkat sebagai patih. Arya Wasita merasa segan karena dirinya adalah punggawa baru di Kerajaan Wirata. Namun, Prabu Basukiswara mendesak adik iparnya itu sehingga akhirnya bersedia menerima jabatan tersebut. Maka, sejak hari itu, Arya Wasita pun berganti gelar menjadi Patih Wasita.

Beberapa hari setelah Prabu Basukiswara menjadi raja, Dewi Wastu melahirkan seorang bayi laki-laki. Prabu Basukiswara pun memberi nama putra keduanya itu, Raden Basuketu.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------











Semoga artikel Basukesti Seda bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter