-->

Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Abyasa Lahir

Kisah ini menceritakan pertemuan Resi Parasara dengan Dewi Durgandini, di mana dari pertemuan itu lahir Raden Abyasa yang kelak menurunkan Pandawa dan Kurawa. Kisah dilanjutkan pula dengan lahirnya keenam saudara Raden Abyasa, yaitu Raden Setatama, Dewi Sudaksina, Raden Bimakinca, Raden Kincaka, Raden Rupakincaka, dan Raden Rajamala.

Kisah ini saya olah berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang saya selaraskan dengan alur cerita Mahabharata karya Resi Wyasa, di mana Resi Parasara tetap menjadi pendeta, sedangkan Dewi Durgandini tetap menjadi tukang perahu setelah kelahiran Raden Abyasa.


Kediri, 12 Agustus 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Resi Parasara

BEGAWAN RUKMAWATI MUKSA

Resi Parasara di Gunung Saptaarga sedang bersamadi ketika ia tiba-tiba didatangi leluhurnya, yaitu Prabu Parikenan yang telah menjadi dewa bergelar Batara Brahma-am. Dalam pertemuan itu, Batara Brahma-am memerintahkan Resi Parasara untuk berguru kepada seorang bidadari petapa di Gunung Mahendra yang bernama Begawan Rukmawati. Batara Brahma-am menceritakan bahwa dirinya sejak kecil bersama sang adik, yaitu Dewi Srini, telah diasuh dan dibesarkan oleh Begawan Rukmawati tersebut bagaikan anak sendiri.

Setelah Batara Brahma-am kembali ke kahyangan, Resi Parasara pun berangkat menuju Gunung Mahendra dengan didampingi panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong. Sesampainya di sana mereka disambut oleh Begawan Rukmawati yang memiliki penglihatan tajam dan langsung mengetahui jati diri Resi Parasara.

Dahulu kala Begawan Rukmawati sering menjadi tumpuan pertanyaan jika para raja mendapatkan masalah. Seiring berkembangnya zaman, nama Begawan Rukmawati dan Gunung Mahendra semakin dilupakan orang. Tak disangka, tiba-tiba saja muncul Resi Parasara yang ingin berguru menimba ilmu kepadanya.

Begawan Rukmawati pun mengajarkan segala kepandaiannya kepada Resi Parasara sampai akhirnya sang murid dinyatakan lulus. Di lain pihak, Resi Parasara sedang terpesona melihat kecantikan gurunya yang seorang bidadari itu. Resi Parasara telah berusia empat puluh tahun, namun baru kali ini ia merasa tertarik kepada seorang wanita. Dengan penuh rasa malu, ia pun memberanikan diri mengutarakan perasaannya kepada Begawan Rukmawati.

Begawan Rukmawati tidak dapat menerima cinta Resi Parasara karena tiga hal. Pertama, karena Resi Parasara adalah muridnya. Kedua, karena Resi Parasara adalah keturunan Prabu Parikenan yang tidak lain adalah anak angkatnya sendiri. Ketiga, karena Begawan Rukmawati merasa sudah saatnya ia mencapai muksa, bersatu dengan semesta.

Resi Parasara merasa kecewa bercampur malu. Namun, Begawan Rukmawati menghibur, bahwa tidak lama lagi Resi Parasara akan berjodoh dengan seorang wanita yang mirip dengannya. Setelah berpesan demikian, Begawan Rukmawati pun dijemput kereta emas yang turun dari angkasa. Ia lalu menaiki kereta tersebut dan kemudian musnah dari pandangan Resi Parasara.

RESI PARASARA MEMBASMI SERANGAN HAMA

Tidak lama kemudian, Resi Parasara menerima kedatangan seorang pendeta bernama Resi Indradewa dari Padepokan Bimarastana. Resi Indradewa bercerita bahwa ladang dekat pertapaannya sering diserang hama. Ia sudah mengusahakan berbagai macam cara namun hama yang menyerang justru semakin bertambah banyak.

Atas petunjuk dewa, Resi Indradewa harus meminta bantuan kepada Resi Parasara yang saat ini berada di Gunung Mahendra. Menanggapi permintaan tersebut, Resi Parasara segera bersiul memanggil sahabatnya, yaitu Gandarwaraja Swala. Dalam sekejap mata, sang raja makhluk halus pun hadir di hadapannya.

Gandarwaraja Swala lalu menggendong Resi Parasara, Resi Indradewa, serta panakawan Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong terbang menuju Padepokan Bimarastana. Dalam waktu sekejap mereka pun tiba di sana. Resi Parasara langsung bersamadi mengheningkan cipta untuk menghalau hama yang menyerang ladang milik Resi Indradewa. Ada berbagai macam jenis hama yang menyerang. Mulai dari wereng, tikus, sampai babi hutan. Satu persatu mereka lumpuh dan berjatuhan di tanah terkena daya gaib mantra Resi Parasara.

Tiba-tiba muncul seorang pendeta yang mengaku bahwa dirinyalah yang mengirim kawanan hama tersebut. Pendeta itu bernama Resi Puruhita yang langsung menyerang Resi Parasara. Terjadilah pertarungan di antara mereka yang berakhir dengan kekalahan Resi Puruhita.

Resi Parasara lalu menanyakan apa alasan Resi Puruhita mengirim kawanan hama ke ladang milik Resi Indradewa. Resi Puruhita menjawab bahwa ladang tersebut dulunya bernama Setra Pitara, yaitu kuburan milik para leluhurnya. Mendengar itu, Resi Indradewa segera meminta maaf karena ia tidak tahu kalau tanah lapang yang telah diubahnya menjadi ladang tersebut adalah bekas kuburan leluhur Resi Puruhita.

Kini semua permasalahan telah jelas. Resi Parasara lalu mengheningkan cipta mendatangkan arwah para leluhur Resi Puruhita. Mereka pun hadir dan meminta Resi Puruhita untuk meredam amarahnya. Para leluhur itu menjelaskan bahwa tempat mereka kini adalah di alam baka, sedangkan jasad mereka yang sudah lama terpendam di tanah kini telah musnah terurai dan bersatu kembali dengan alam semesta. Asalnya tiada, kembali tiada. Untuk itu, Resi Puruhita diminta untuk tidak mempermasalahkan jika Resi Indradewa melanjutkan kegiatan berladang, karena tanah lapang Setra Pitara akan lebih bermanfaat bagi masyarakat jika digunakan sebagai lahan pertanian. Setelah berpesan demikian, arwah para leluhur itu pun musnah kembali ke alam baka.

Resi Puruhita merasa lega mendengarkan penjelasan dari para leluhurnya. Ia pun menyatakan rela jika Resi Indradewa melanjutkan kegiatan berladang di bekas kuburan tersebut dan berjanji tidak akan mengirimkan hama lagi. Ia juga berterima kasih kepada Resi Parasara yang telah menengahi permasalahan ini dengan bijaksana.

RESI PARASARA MENIKAH DENGAN DEWI WATARI

Setelah Resi Puruhita meninggalkan Setra Pitara, Resi Indradewa berterima kasih atas segala bantuan Resi Parasara. Sebagai ungkapan syukurnya, ia pun menyerahkan putrinya yang bernama Dewi Watari supaya menjadi istri Resi Parasara.

Resi Parasara sudah berusia empat puluh tahun tetapi belum berumah tangga, tentunya hal ini kurang baik menurut pandangan masyarakat. Karena terus-menerus dibujuk, Resi Parasara tidak dapat menolak lagi. Ia pun menerima perjodohan tersebut dan menikahi Dewi Watari di Padepokan Bimarastana.

Akan tetapi, Resi Parasara selalu terbayang-bayang wajah Begawan Rukmawati. Malam harinya, ia pun mengajak para panakawan pergi meninggalkan Padepokan Bimarastana secara diam-diam karena tidak mau berumah tangga dengan Dewi Watari tanpa dilandasi rasa cinta.

RESI PARASARA BERTAPA DI HUTAN PAREWANA

Sesampainya di Hutan Parewana, Resi Parasara bersamadi mengheningkan cipta. Ia bertekad tidak akan menikah jika tidak dengan perempuan yang berwajah mirip Begawan Rukmawati.

Berhari-hari lamanya Resi Parasara bertapa tanpa makan dan minum, hingga pada suatu ketika di atas kepalanya hinggap dua ekor burung pipit sejodoh. Kedua burung tersebut tidak hanya hinggap, tetapi juga bersarang di atas kepala Resi Parasara. Hari demi hari berlalu, si burung betina pun bertelur tiga butir hingga akhirnya menetas semua.

Akan tetapi, burung jantan dan burung betina itu tidak mau merawat dan memberi makan ketiga anak mereka. Resi Parasara terbangun dari samadinya dan berusaha memanggil si burung jantan dan betina agar kembali ke sarang mereka. Namun, sepasang induk burung tersebut justru terbang menjauh, membuat Resi Parasara semakin kesal dan bergegas mengejar sambil memegang sarang berisi ketiga anak mereka.

RESI PARASARA BERTEMU DEWI DURGANDINI

Sepasang induk burung pipit itu hinggap dari pohon satu ke pohon lainnya, seolah mereka ingin bermain kejar-kejaran dengan Resi Parasara. Tak terasa, pengejaran Resi Parasara terhalang oleh Sungai Jamuna, sedangkan sepasang induk burung tersebut telah berada di seberang sana.

Pada saat itulah Resi Parasara melihat seorang tukang perahu berwajah cantik namun berbau amis mendekati dirinya. Tukang perahu itu mengaku bernama Rara Amis yang menawarkan diri untuk menyeberangkan Sang Resi. Resi Parasara terkesima karena wajah tukang perahu ini sama persis dengan Begawan Rukmawati yang dicintainya. Tanpa banyak bertanya lagi, ia pun naik ke atas perahu dan meminta diseberangkan untuk mengejar sepasang induk burung tadi.

Tiba-tiba sepasang induk burung yang hinggap di pohon seberang sungai musnah entah ke mana, begitu pula ketiga anak burung yang ada di tangan Resi Parasara juga ikut lenyap. Sesampainya di seberang, Resi Parasara mengurungkan niatnya untuk turun dan meminta supaya diantarkan menyusuri Sungai Jamuna saja. Rara Amis menurut dan menjalankan perahu sesuai permintaan Sang Resi.

Resi Parasara sama sekali tidak jijik terhadap bau badan Rara Amis, tetapi justru merasa iba. Ia pun menawarkan diri untuk mengobati penyakit gadis itu. Rara Amis mengiakan dengan penuh pengharapan. Resi Parasara lalu mengusapkan rimpang kunyit ke sekujur tubuh Rara Amis sambil membaca mantra Muskala. Berangsur-angsur penyakit Rara Amis rontok dan berubah menjadi semacam lumpur yang kemudian dilemparkan ke dalam sungai oleh Resi Parasara.

Sementara itu, sepasang induk burung pipit dan ketiga anaknya yang telah musnah tadi berubah wujud menjadi Batara Guru, Batara Narada, serta Batari Warsiki, Batari Gagarmayang, dan Batari Tunjungbiru. Mereka berlima sengaja menjelma menjadi burung pipit sekeluarga untuk mempertemukan Resi Parasara dengan Dewi Durgandini (Rara Amis) karena mereka ditakdirkan berjodoh dan menurunkan seorang putra yang kelak menjadi pendeta agung di Tanah Jawa.

LAHIRNYA RADEN ABYASA

Rara Amis kini telah sembuh dari penyakitnya dan ia sangat berterima kasih kepada Resi Parasara. Di lain pihak, Resi Parasara tergetar hatinya saat mengusapkan kunyit ke sekujur tubuh Rara Amis. Ia pun berterus terang telah jatuh cinta kepada gadis itu. Sebaliknya, Rara Amis juga merasa jatuh hati kepada penolongnya tersebut. Meskipun Resi Parasara sudah berusia lebih dari empat puluh tahun, tetapi wajahnya sangat tampan dan juga awet muda karena tekun bertapa setiap waktu.

Pada saat itu perahu yang mereka tumpangi berlabuh di sebuah pulau kecil yang terletak di tengah Sungai Jamuna. Resi Parasara dan Rara Amis pun mendarat di pulau tersebut. Mereka sama-sama tak kuasa menahan nafsu birahi sehingga melakukan hubungan badan di sana. Sebelumnya, Resi Parasara sempat menciptakan semacam kabut tebal untuk menutupi apa yang mereka lakukan berdua.

Tiba-tiba ada petir menggelegar menyambar perahu milik Rara Amis yang ditambatkan di tepi pulau tadi hingga pecah menjadi dua. Resi Parasara dan Rara Amis terkejut dan merasa bersalah karena petir ini pasti teguran dari dewata atas perzinahan yang telah mereka lakukan. Rara Amis pun berterus terang bahwa dirinya memiliki nama asli Dewi Durgandini, putri Prabu Wasupati di Kerajaan Wirata. Resi Parasara menyesal karena terlalu menuruti hawa nafsu sehingga lupa bertanya tentang asal-usul Rara Amis. Seharusnya ia bertanya lebih dulu siapa orang tua gadis itu, sehingga bisa mengajukan lamaran secara resmi kepada Prabu Wasupati di Kerajaan Wirata, bukannya berzinah seperti ini. Sebaliknya, Dewi Durgandini juga merasa bersalah karena tidak berterus terang sejak awal kepada Resi Parasara tentang jati dirinya.

Kini, Dewi Durgandini telah mengandung anak Resi Parasara. Sembilan bulan setelah peristiwa itu, ia melahirkan seorang bayi berkulit hitam legam, namun memiliki ari-ari berwarna putih bersih. Resi Parasara teringat kepada Brahmana Wyasa yang dulu menyatu ke dalam dirinya dan berniat akan terlahir kembali sebagai anaknya. Maka, Resi Parasara pun memberi nama mirip Brahmana Wyasa untuk putranya yang baru lahir tersebut, yaitu Raden Abyasa. Sementara itu, Dewi Durgandini juga memberikan nama Raden Kresna Dwipayana, karena bayinya itu berkulit hitam dan dilahirkan di tengah pulau.

Ketika Resi Parasara hendak menanam ari-ari Raden Abyasa, tiba-tiba benda itu berubah menjadi seorang bayi berkulit putih bersih. Resi Parasara pun mengakuinya sebagai anak nomor dua dan memberinya nama Raden Setatama.

RESI PARASARA MENDAPATKAN TUJUH ANAK

Tidak lama kemudian datanglah Resi Indradewa dan Endang Watari sambil menggendong lima bayi. Resi Indradewa menggendong tiga bayi laki-laki, sedangkan Dewi Watari menggendong satu bayi perempuan dan satu bayi laki-laki. Resi Parasara dan Dewi Durgandini pun menyambut kedatangan mereka dengan senang hati sekaligus heran melihat kelima bayi yang mereka bawa itu.

Resi Indradewa pun bercerita bahwa pada suatu hari Batara Narada datang ke Padepokan Bimarastana membawa lima macam benda, yaitu rimpang kunyit, dayung, dan perahu yang telah pecah menjadi dua, serta segumpal lumpur. Batara Narada lalu mengubah kelima benda tersebut menjadi bayi supaya diasuh Dewi Watari sebagai anak-anak Resi Parasara.

Yang pertama kali diubah menjadi bayi perempuan adalah rimpang kunyit, yaitu benda yang dipakai Resi Parasara untuk mengobati Dewi Durgandini. Batara Narada pun memberinya nama Dewi Sudaksina.

Benda kedua yang diubah menjadi bayi adalah dayung milik Dewi Durgandini. Batara Narada memberinya nama Raden Bimakinca.

Selanjutnya, yang diubah adalah perahu yang terbelah menjadi dua, yaitu perahu milik Dewi Durgandini yang tersambar petir saat ditambatkan di tepi pulau tengah sungai. Kedua belahan perahu tersebut berubah menjadi sepasang bayi kembar, yang diberi nama Raden Kincaka dan Raden Rupakinca.

Yang terakhir diubah menjadi bayi adalah gumpalan lumpur penjelmaan penyakit Dewi Durgandini. Bayi yang terakhir ini memiliki taring seperti raksasa, diberi nama Raden Rajamala.

Batara Narada lalu menyerahkan kelima bayi tersebut kepada Resi Indradewa dan Dewi Watari dan menjelaskan di mana Resi Parasara saat ini berada. Setelah dirasa cukup, ia pun undur diri kembali ke kahyangan.

Demikianlah, Resi Indradewa menceritakan asal-usul kelima bayi tersebut kepada Resi Parasara dan Dewi Durgandini. Resi Parasara terkesan mendengarnya dan menerima mereka semua sebagai anak. Jika ditambah dengan Raden Abyasa dan Raden Setatama, maka jumlah anak Resi Parasara sekarang menjadi tujuh orang.

DEWI DURGANDINI DIJEMPUT RADEN DURGANDANA

Tidak lama kemudian datang pula Raden Durgandana dan Kyai Dasa di pulau tersebut dan mereka sangat gembira melihat Dewi Durgandini telah sembuh dari penyakitnya. Raden Durgandana berkata bahwa  ayah mereka, yaitu Prabu Wasupati beberapa hari yang lalu mendapatkan petunjuk dewata bahwa Dewi Durgandini telah sembuh dari penyakitnya. Prabu Wasupati pun mengutus Raden Durgandana untuk menjemput Dewi Durgandini pulang ke Kerajaan Wirata. Akan tetapi, sungguh mengejutkan karena Dewi Durgandini mengaku telah memiliki anak dari hasil perzinahan dengan Resi Parasara.

Raden Durgandana marah menuduh Resi Parasara sebagai pendeta berbudi rendah yang telah merusak kesucian kakaknya. Ia pun menyerang Resi Parasara untuk melampiaskan kekesalan. Resi Parasara terpaksa menghadapi serangan Raden Durgandana untuk membela diri. Setelah bertarung agak lama, Resi Parasara akhirnya berhasil meringkus Raden Durgandana.

Meskipun telah kalah, Raden Durgandana tetap memaki Resi Parasara sebagai pendeta tak berbudi meskipun memiliki ilmu setinggi langit. Mendengar itu, Resi Parasara tidak melawan lagi karena ia menyadari kesalahannya yang terlalu menuruti hawa nafsu. Ia pun melepaskan Raden Durgandana dan meminta maaf kepada pengeran dari Wirata tersebut.

Resi Parasara lalu mengheningkan cipta mengerahkan kesaktiannya sehingga membuat Dewi Durgandini kembali menjadi perawan seperti sedia kala. Setelah itu, ia lalu mengajak Resi Indradewa dan Dewi Watari kembali ke Padepokan Bimarastana sambil membawa ketujuh bayinya.

DEWI DURGANDINI MELANJUTKAN TAPA NGRAME

Sepeninggal mereka, Raden Durgandana mengajak Dewi Durgandini pulang ke Kerajaan Wirata. Akan tetapi, Dewi Durgandini menyatakan tidak bersedia pulang karena ia merasa telah berdosa besar menuruti hawa nafsu dan mencemarkan nama baik Prabu Wasupati. Untuk itu, ia mengaku ingin melanjutkan tapa ngrame menjadi tukang perahu di Sungai Jamuna sebagai penebus dosa.

Raden Durgandana berusaha membujuk kakaknya untuk ikut pulang ke Wirata, namun tidak berhasil. Ia lalu meminta Kyai Dasa membuatkan sebuah perahu baru yang kemudian diberikannya kepada Dewi Durgandini sebagai sarana melakukan tapa ngrame. Setelah dirasa cukup, Raden Durgandana mohon pamit dan menitipkan Dewi Durgandini kepada Kyai Dasa seperti waktu-waktu sebelumnya.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kisah sebelumnya ; daftar isi ; kisah selanjutnya












Semoga artikel Abyasa Lahir bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter