-->

Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Parasara Lelana

Kisah ini menceritakan Resi Parasara berkelana ke Kerajaan Giyantipura mengunjungi ibu susunya, yaitu Dewi Wayasi. Kisah dilanjutkan dengan perkenalan Resi Parasara dengan Gandarwaraja Swala, serta terciptanya panakawan Nala Gareng dan Petruk.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 28 Juli 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Resi Parasara

RAJA DUHYAPURA MELAMAR DEWI DURGANDINI

Prabu Wasupati di Kerajaan Wirata dihadap Raden Durgandana, Patih Wasita, Resi Manungkara, dan Aryaprabu Kistawa. Mereka membicarakan soal Dewi Durgandini yang masih menjalani tapa ngrame dan belum mendapatkan kesembuhan. Menurut petunjuk dari Batara Kalakeya, yang bisa mengobati penyakit Sang Dewi adalah Resi Parasara dari Gunung Saptaarga. Maka, Prabu Wasupati pun berniat mengundang Resi Parasara untuk mengobati penyakit putrinya tersebut di Sungai Jamuna.

Raden Durgandana bercerita bahwa Batara Kalakeya pernah memberikan petunjuk, yaitu pertemuan antara Resi Parasara dan Dewi Durgandini tidak dapat dipaksakan. Apabila Dewi Durgandini telah ikhlas menjalani pertapaannya, maka dewata yang akan mempertemukan kakaknya itu dengan Resi Parasara. Mendengar penuturan putranya tersebut, Prabu Wasupati salah paham dan menuduh Raden Durgandana tidak suka apabila Dewi Durgandini mendapatkan kesembuhan.

Pada saat itulah datang seorang raja dari Kerajaan Duhyapura yang mengaku bernama Prabu Sengara. Ia mengaku sebagai putra mendiang Prabu Basukiyana, sedangkan Prabu Basukiyana adalah menantu mendiang Prabu Durapati. Jika dulu Prabu Durapati menikahi putri Kerajaan Wirata yang bernama Dewi Kaniraras (janda Empu Kanomayasa, atau kakak sulung Resi Manumanasa), maka kini Prabu Sengara berniat melamar Dewi Durgandini untuk mempererat persaudaraan antara Wirata dan Duhyapura.

Prabu Wasupati pun berterus terang bahwa putrinya itu masih menderita penyakit bau amis dan saat ini sedang menjalani tapa ngrame di Sungai Jamuna. Menurut petunjuk dewata, yang bisa menyembuhkan Dewi Durgandini adalah Resi Parasara dari Gunung Saptaarga. Prabu Wasupati pun berjanji akan menerima lamaran Prabu Sengara asalkan ia dapat membawa Resi Parasara datang menghadap ke istana Wirata dan mengobati Dewi Durgandini.

Mendengar syarat tersebut, Prabu Sengara menyatakan bersedia. Ia lalu mohon pamit berangkat ke Gunung Saptaarga, dengan didampingi adiknya yang bernama Resi Maruta.

RESI PARASARA DIKUNJUNGI PRABU PARTANA DAN PRABU SADAMUKA

Sementara itu, Resi Parasara di Gunung Saptaarga menerima kunjungan pamannya dari pihak ibu, yaitu Prabu Partana raja Sriwedari. Sang paman tampak datang bersama seorang raja lain, bernama Prabu Sadamuka serta anaknya, bernama Raden Darmamuka. Kedua ayah dan anak ini berasal dari Kerajaan Giyantipura. Prabu Partana menceritakan bahwa semasa kecil Resi Parasara pernah disusui oleh ibu Prabu Sadamuka, yaitu Dewi Wayasi, istri mendiang Prabu Ambinasa (raja Kasipura). Adapun Prabu Ambinasa telah meninggal karena membantu Batara Sakri (ayah Resi Parasara) menghadapi Prabu Murtija dari Kerajaan Tirtakawana.

Prabu Sadamuka pun bercerita bahwa ibunya kini telah berusia lanjut dan sakit-sakitan. Dewi Wayasi mengaku ingin bertemu Resi Parasara sebelum meninggal dunia. Untuk itu, ia meminta Prabu Sadamuka supaya mengundang anak susunya itu datang ke Kerajaan Giyantipura. Demi memperlancar urusan, Prabu Sadamuka pun meminta bantuan kepada Prabu Partana untuk mengantarkannya ke Gunung Saptaarga.

Demikianlah, Prabu Sadamuka dan Prabu Partana kini telah tiba di Gunung Saptaarga. Resi Parasara sangat gembira bisa bertemu saudara sepersusuannya itu yang kemudian dipanggilnya sebagai “kakak”. Panakawan Kyai Semar memang pernah menceritakan masa kecil Resi Parasara yang ditinggal mati kedua orang tuanya, yaitu Batara Sakri dan Dewi Sati sejak usia satu tahun, kemudian disusui oleh istri Prabu Ambinasa yang bernama Dewi Wayasi sampai usia dua tahun bersama dengan Raden Sadamuka yang saat itu sama-sama masih bayi.

PASUKAN DUHYAPURA BERSELISIH DENGAN PASUKAN GIYANTIPURA

Belum sempat Resi Parasara menyatakan bersedia diajak ke Kerajaan Giyantipura, tiba-tiba datang rombongan Prabu Sengara di Gunung Saptaarga. Prabu Sengara menyampaikan undangan Prabu Wasupati supaya Resi Parasara hadir ke Kerajaan Wirata untuk mengobati Dewi Durgandini yang menderita penyakit bau amis.

Resi Parasara merasa keberatan karena dirinya tidak memiliki kemampuan mengobati penyakit aneh seperti itu. Prabu Sengara pun merayu Resi Parasara dengan iming-iming akan memberikan bayaran berupa emas dan permata sebanyak-banyaknya apabila bersedia ikut ke Wirata.

Prabu Sadamuka tidak mau kalah. Ia memohon kepada Resi Parasara agar ikut dengannya ke Giyantipura karena Dewi Wayasi sedang sakit dan ia takut tidak mampu memenuhi keinginan ibunya itu yang bisa saja meninggal setiap saat. Mendengar hal ini, Prabu Sengara marah dan meminta agar Prabu Sadamuka tidak ikut campur. Kedua raja itu pun akhirnya bertengkar memperebutkan Resi Parasara.

Pertengkaran antara Prabu Sengara dan Prabu Sadamuka berkembang menjadi perkelahian di mana masing-masing mengerahkan pasukan pula. Prabu Sadamuka dibantu Raden Darmamuka menghadapi Prabu Sengara yang dibantu Resi Maruta. Halaman Padepokan Ratawu di puncak Gunung Saptaarga pun berubah menjadi ajang pertempuran di antara mereka.

Resi Parasara bingung hendak memenuhi ajakan siapa. Ia lalu meminta nasihat kepada Prabu Partana dan Kyai Semar. Keduanya menyarankan agar Resi Parasara mengikuti hati nurani saja. Resi Parasara akhirnya memutuskan untuk pergi ke Giyantipura menemui sang ibu susu, daripada menerima undangan Prabu Sengara yang memberikan iming-iming berupa emas permata. Ia takut imbalan tersebut dapat mengotori ketulusan hatinya. Setelah memutuskan demikian, Resi Parasara lalu mengerahkan Aji Panglimunan yang membuatnya tidak dapat terlihat, serta menularkannya kepada Prabu Partana, Kyai Semar, Bagong, juga Prabu Sadamuka dan Raden Darmamuka beserta seluruh pasukan Giyantipura yang sedang bertempur.

Prabu Sengara dan Resi Maruta terheran-heran mengapa Gunung Saptaarga berubah sepi dan kini yang tersisa hanya tinggal orang-orang Duhyapura saja. Mereka pun menggeledah seisi Padepokan Ratawu namun tidak dapat menemukan ke mana Resi Parasara menghilang.

RESI PARASARA BERTEMU BRAHMANA WYASA

Sementara itu, Resi Parasara, Prabu Partana, Prabu Sadamuka, Raden Darmamuka, Kyai Semar, dan Bagong telah memasuki wilayah Kerajaan Giyantipura. Di tengah jalan mereka bertemu seorang petapa bertubuh tinggi besar, mengaku bernama Brahmana Wyasa. Petapa ini berkelana ke segala penjuru negeri untuk mencari orang yang bisa mengungguli kekuatannya. Barangsiapa yang lebih kuat daripada dirinya, maka orang itu akan ia akui sebagai ayah. Namun demikian, sampai saat ini belum ada seorang pun yang mampu mengangkat tubuhnya.

Prabu Sadamuka heran bercampur geli melihat ada petapa yang ingin memiliki ayah dengan cara demikian. Brahmana Wyasa tersinggung dan mengajaknya adu kekuatan. Prabu Sadamuka pun menerima tantangan tersebut. Ia dipersilakan mengangkat tubuh Brahmana Wyasa lebih dahulu. Prabu Sadamuka maju dan mengerahkan segenap kekuatan namun sedikit pun tidak mampu menggeser tubuh Brahmana Wyasa.

Selanjutnya, giliran Brahmana Wyasa mengangkat tubuh Prabu Sadamuka. Karena yang diangkatnya seorang raja, Brahmana Wyasa pun melakukannya dengan penuh hormat dan sopan santun. Tubuh Prabu Sadamuka langsung terangkat dengan sangat mudah dan setelah itu dikembalikan lagi ke tanah secara perlahan-lahan. Prabu Sadamuka kini menyadari kekuatan Brahmana Wyasa dan tidak berani mengejek lagi.

Prabu Partana lalu menyarankan agar Resi Parasara menerima tantangan brahmana tersebut. Resi Parasara memohon restu kepada sang paman, lalu maju dan mengangkat tubuh Brahmana Wyasa dengan satu tangan. Brahmana Wyasa sangat heran melihat Resi Parasara yang bertubuh lebih kecil darinya itu ternyata mampu mengangkat tubuhnya, padahal orang-orang lainnya yang selama ini ia temui banyak yang bertubuh besar namun tidak ada yang berhasil.

Setelah diturunkan, Brahmana Wyasa ganti mencoba mengangkat tubuh Resi Parasara. Anehnya, meskipun mengerahkan segenap kemampuan, ternyata tubuh Resi Parasara sedikit pun tidak tergoyahkan. Brahmana Wyasa sangat senang dapat menemukan orang yang lebih kuat darinya. Ia pun menyembah Resi Parasara dan menyebutnya sebagai ayah. Sekejap kemudian, tubuh Brahmana Wyasa musnah dan masuk ke dalam diri Resi Parasara. Suaranya terdengar berkumandang di angkasa bahwa kelak ia akan menitis kepada putra Resi Parasara yang ditakdirkan memiliki kebijaksanaan tinggi, namun berkulit hitam gelap (Putra Resi Parasara itu kelak dikenal dengan nama Resi Abyasa).

Resi Parasara senang mendengar pernyataan Brahmana Wyasa tersebut. Prabu Sadamuka lalu mengajaknya melanjutkan perjalanan menuju istana Giyantipura.

RESI PARASARA BERTEMU DEWI WAYASI

Sesampainya di istana Giyantipura, Resi Parasara segera menemui sang ibu susu, yaitu Dewi Wayasi yang sedang sakit parah. Dewi Wayasi sudah bertekad tidak mau mati dulu sebelum berjumpa Resi Parasara, sehingga pertemuan ini pun berlangsung dalam suasana haru.

Prabu Sadamuka ingin lebih mempererat persaudaraannya dengan Resi Parasara. Ia sebenarnya berharap Resi Parasara memiliki anak perempuan supaya bisa dijodohkan dengan Raden Darmamuka, putranya. Sayangnya, sampai saat ini Resi Parasara belum menikah, padahal usianya sudah lebih dari empat puluh tahun. Resi Parasara pun menjawab, mungkin kelak anaknya yang akan menikah dengan cucu Prabu Sadamuka. Mendengar itu, Prabu Sadamuka tertawa karena mengira Resi Parasara sedang bercanda. (Sebenarnya Resi Parasara tidak bercanda, tetapi meramalkan bahwa dirinya kelak akan memiliki seorang putra bernama Resi Abyasa yang kemudian menikah dengan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika, putri Prabu Darmamuka, atau cucu Prabu Sadamuka. Dari perkawinan itulah lahir ayah para Kurawa dan ayah para Pandawa).

Tujuh hari kemudian, Dewi Wayasi akhirnya meninggal dunia. Prabu Sadamuka memimpin upacara pemakaman ibunya itu dengan didampingi Resi Parasara, serta dihadiri pula oleh Prabu Partana.

Selama tinggal di Giyantipura, Resi Parasara memanfaatkan seluruh waktunya untuk berguru kepada para pendeta dan brahmana di sana. Setelah dirasa cukup, ia lalu mohon pamit kepada Prabu Sadamuka untuk kemudian menyertai Prabu Partana pulang ke Kerajaan Sriwedari. Di sana pun Resi Parasara menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari para pendeta dan brahmana.

Setelah menamatkan segala pelajaran, Resi Parasara didampingi panakawan Kyai Semar dan Bagong mohon pamit kembali ke Gunung Saptaarga.

RESI PARASARA BERTEMU GANDARWARAJA SWALA

Dalam perjalanan pulang, rombongan Resi Parasara berjumpa raja makhluk halus yang mengaku bernama Gandarwaraja Swala. Raja makhluk halus itu bercerita bahwa dirinya memiliki seorang anak yang sangat nakal bernama Gandarwa Supatra. Dewata pun memberikan petunjuk supaya Gandarwaraja Swala meminta bantuan kepada Resi Parasara untuk menyembuhkan kenakalan Gandarwa Supatra.

Gandarwaraja Swala menjelaskan bahwa Gandarwa Supatra sangat suka mengganggu istri manusia. Ia sudah berusaha menasihati putranya itu dengan segala cara namun tidak berhasil. Gandarwa Supatra justru semakin menjadi-jadi kenakalannya. Untuk itu, Gandarwaraja Swala pun memohon kepada Resi Parasara untuk menyadarkan putranya tersebut.

Resi Parasara memenuhi permintaan ini. Gandarwaraja Swala lalu berteriak keras memanggil Gandarwa Supatra. Tidak lama kemudian muncul sesosok gandarwa berwajah tampan di hadapan mereka.

TERCIPTANYA PANAKAWAN NALA GARENG DAN PETRUK

Resi Parasara segera menasihati agar Gandarwa Supatra berhenti berbuat kenakalan mengganggu istri manusia. Gandarwa Supatra marah-marah menyebut Resi Parasara lancang berani menasihati dirinya, sedangkan kepada ayahnya saja ia berani membantah. Ia pun menantang Resi Parasara berkelahi. Jika Resi Parasara menang, maka ia berjanji tidak akan berbuat nakal lagi dan bersedia menjadi pelayan Sang Resi.

Resi Parasara menerima tantangan itu, namun bukan dirinya yang maju. Ia berkata bahwa pengasuhnya yang bernama Kyai Semar sudah cukup untuk mengalahkan Gandarwa Supatra. Kyai Semar terkejut karena tiba-tiba dirinya yang ditunjuk maju. Sebaliknya, Gandarwa Supatra sangat marah karena merasa disepelekan. Ia pun menyerang Kyai Semar untuk memenuhi tantangan Resi Parasara.

Kyai Semar memilih kabur ke dalam hutan tidak mau melayani serangan Gandarwa Supatra. Rupanya Kyai Semar mendapatkan firasat bahwa di dalam hutan tersebut ada sarana untuk mengalahkan Gandarwa Supatra. Melihat lawannya lari, Gandarwa Supatra segera ikut masuk mengejar ke dalam hutan sambil memaki-maki. Meskipun bertubuh bulat dan gemuk, namun Kyai Semar dapat bergerak lincah menghindari sergapan Gandarwa Supatra.

Sambil terus berlari, Kyai Semar melemparkan benda apa saja yang ia temui ke arah Gandarwa Supatra. Ada batu dilemparkan, ada ranting dilemparkan, hingga akhirnya tangan Kyai Semar mencabut sebatang pohon bernama kayu Garu Rasamala dan melemparkannya ke arah Gandarwa Supatra.

Sungguh ajaib, begitu membentur tubuh Gandarwa Supatra, pohon kayu Garu Rasamala tersebut langsung berubah menjadi seorang pendeta bertubuh kurus kecil yang mengaku bernama Resi Sukadi. Seketika ia pun bertarung menghadapi Gandarwa Supatra. Keduanya saling mengadu kesaktian dan ternyata sama-sama kuat. Pertarungan tersebut akhirnya mengubah wujud mereka yang semula tampan menjadi buruk rupa.

Wujud Resi Sukadi kini menjadi bermata juling, berlengan cekot sebelah, serta berkaki jinjit sebelah akibat dipukuli Gandarwa Supatra. Sebaliknya, hidung, lengan, dan kaki Gandarwa Supatra juga berubah menjadi panjang karena ditarik Resi Sukadi.

Kyai Semar segera melerai pertarungan mereka. Tidak lama kemudian datanglah Resi Parasara, Gandarwaraja Swala, dan Bagong. Kini Gandarwa Supatra menyadari kesalahannya yang sering bersikap sombong padahal di dunia masih banyak orang lain yang lebih sakti daripada dirinya. Ia ikhlas menerima perubahan wujudnya sebagai hukum karma. Gandarwa Supatra pun bersumpah tidak akan berbuat nakal lagi dan bersedia mengabdi kepada Resi Parasara beserta keturunannya bersama Kyai Semar dan Bagong sesuai janjinya tadi.

Resi Parasara lalu bertanya tentang asal-usul Resi Sukadi. Resi Sukadi pun menjawab bahwa dirinya adalah pendeta dari Bluluktiba yang bercita-cita ingin panjang umur sampai ratusan tahun. Namun, karena salah mempelajari ilmu, sekujur tubuhnya berubah menjadi sebatang pohon kayu Garu Rasamala. Menurut petunjuk dewa, ia akan kembali menjadi manusia dan terkabul keinginannya memiliki umur panjang apabila bertemu seorang bertubuh bulat gemuk bernama Kyai Semar. Petunjuk dewata itu kini telah menjadi kenayataan. Meskipun wujudnya kini berubah menjadi buruk rupa akibat pertarungan melawan Gandarwa Supatra tadi, namun ia ikhlas asalkan bisa memiliki umur panjang. Sebagai ungkapan terima kasih, Resi Sukadi pun memohon untuk diizinkan menjadi anak Kyai Semar.

Pada saat itulah datang Batara Narada yang membawa pesan dari Sanghyang Padawenang, leluhur para dewa. Sanghyang Padawenang berpesan bahwa Kyai Semar ditugasi untuk mengasuh keturunan Resi Parasara yang memiliki jiwa kesatria dan berbudi luhur. Karena tugasnya mengasuh orang-orang istimewa, maka tanggung jawab Kyai Semar jauh lebih berat daripada kakaknya, yaitu Kyai Togog yang bertugas mengasuh para raksasa dan gologan jahat.

Oleh sebab itu, jika Kyai Togog hanya memiliki seorang pendamping bernama Bilung, maka Kyai Semar mendapatkan dua pendamping tambahan selain Bagong. Mulai hari ini, hendaknya Resi Sukadi memakai nama Nala Gareng, sedangkan Gandarwa Supatra hendaknya memakai nama Petruk. Adapun Bagong mulai saat ini dijadikan anak bungsu Kyai Semar karena sikapnya yang kekanak-kanakan, yaitu sebagai adik Nala Gareng dan Petruk. Bagong pun menerima keputusan ini, yaitu menjadi anak bungsu tetapi tidak mau memanggil “kakak” kepada Nala Gareng dan Petruk karena ia merasa lebih dulu mengenal Kyai Semar dibanding mereka.

Setelah berpesan demikian, Batara Narada lalu kembali ke kahyangan. Gandarwaraja Swala sangat gembira karena dewata menunjuk putranya menjadi pengasuh para kesatria berbudi luhur keturunan Resi Parasara. Ia pun ikut mengantarkan rombongan tersebut kembali ke Gunung Saptaarga.

GANDARWARAJA SWALA MENGUSIR ORANG-ORANG DUHYAPURA

Sesampainya di Gunung Saptaarga, ternyata Prabu Sengara, Resi Maruta, dan pasukan Duhyapura masih berjaga menunggu Resi Parasara kembali. Begitu melihat Resi Parasara datang, Prabu Sengara langsung memerintahkan pasukan untuk meringkusnya dan membawanya ke Wirata secara paksa. Melihat itu, Gandarwaraja Swala segera turun tangan. Dengan kesaktiannya ia pun mengerahkan angin badai yang membuat tubuh Prabu Sengara, Resi Maruta, dan seluruh prajurit Duhyapura terlempar sejauh-jauhnya.

Resi Parasara pun berterima kasih atas bantuan Gandarwaraja Swala. Kini di antara mereka terjalin persahabatan. Gandarwaraja Swala lalu mohon pamit kembali ke negerinya di alam siluman, dan ia berjanji jika Resi Parasara membutuhkan bantuannya, maka cukup bersiul saja, ia pasti datang.

Demikianlah, mulai kini Resi Parasara pun memiliki empat orang panakawan bernama Kyai Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong yang kelak juga akan mengasuh keturunannya.

Para panakawan: Bagong, Petruk, Nala Gareng, Kyai Semar

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------









Semoga artikel Parasara Lelana bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter