-->

Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Durgandini - Durgandana Lahir

Kisah ini menceritakan lahirnya Dewi Durgandini dan Raden Durgandana yang berbau amis seperti ikan. Dewi Durgandini kelak menurunkan para Pandawa dan Kurawa, sedangkan Raden Durgandana kelak bergelar Prabu Matsyapati, menjadi sekutu penting pihak Pandawa dalam Perang Bratayuda.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan beberapa pengembangan.


Kediri, 17 Juni 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------

Prabu Basuparicara alias Prabu Wasupati

PRABU BASUPARICARA MENGGELAR SESAJI RAJAWEDA

Prabu Basuparicara di Kerajaan Wirata mengadakan upacara agung Sesaji Rajaweda yang dihadiri oleh segenap pejabat istana, para pendeta dan resi, serta para raja bawahan, antara lain Prabu Mandrakusuma raja Mandraka, Prabu Maneriya raja Gandaradesa, Prabu Maheswara raja Medang Kamulan, Prabu Danadewa raja Gilingwesi, dan Prabu Rambana raja Pringgadani. Hadir pula Prabu Santanu raja Hastina yang telah mendapatkan kemerdekaan penuh sebagai mitra sederajat.

Dalam upacara itu, Prabu Basuparicara mengganti gelarnya menjadi Prabu Wasupati, sedangkan sang permaisuri Dewi Adrika diganti namanya menjadi Dewi Swargandini. Raden Basuketu yang dinilai berhasil menjalankan tugasnya sebagai wakil raja selama Prabu Wasupati berkelana, juga mendapat gelar baru, yaitu Aryaprabu Kistawa.

Setelah upacara berakhir, Prabu Wasupati mengumumkan bahwa mulai hari ini, semua kerajaan bawahan dinyatakan merdeka dan tidak lagi berada di bawah kekuasaan Wirata. Dengan demikian, Kerajaan Mandraka, Gandaradesa, Medang Kamulan, Gilingwesi, dan Pringgadani mulai sekarang berhak menentukan jalannya pemerintahan masing-masing seperti Kerajaan Hastina dan tidak lagi wajib melapor kepada Kerajan Wirata. Rupanya Prabu Wasupati tidak ingin peristiwa Perang Wirata – Hastina yang memakan korban Prabu Pratipa terulang kembali hanya karena perasaan ingin mengungguli antara kerajaan satu dengan yang lainnya.

Para raja bawahan merasa terharu mendengar keputusan tersebut. Apa yang dilakukan Prabu Wasupati ini sama persis dengan yang pernah dilakukan oleh Sri Maharaja Wisaka di Kerajaan Medang Kamulan ratusan tahun silam setelah ia berhasil mengalahkan Sri Maharaja Purwacandra. Saat itu Sri Maharaja Wisaka memerdekakan Kerajaan Gilingwesi, Purwacarita, dan Wirata sehingga tidak lagi berada di bawah kekuasaan Medang Kamulan.

PRABU MANERIYA TURUN TAKHTA DIGANTIKAN PUTRANYA

Meskipun telah mendapatkan kemerdekaan penuh, namun para raja sepakat untuk tetap menganggap raja Wirata sebagai sesepuh Tanah Jawa. Mereka pun berjanji apabila mengangkat raja baru akan tetap meminta restu kepada raja Wirata.

Kesepakatan ini pun dibuktikan oleh Prabu Maneriya raja Gandaradesa. Pada suatu hari ia memutuskan untuk turun takhta dan menjadi pendeta, bergelar Begawan Maneriya. Takhta Kerajaan Gandaradesa pun diserahkan kepada putranya, yang bergelar Prabu Mandara. Pada saat pelantikan, Begawan Maneriya mengundang Prabu Wasupati untuk hadir dan memberikan restu kepada putranya tersebut.

LAHIRNYA DEWI DURGANDINI DAN RADEN DURGANDANA

Setelah menghadiri undangan di Kerajaan Gandara, Prabu Wasupati pulang ke Wirata dan mendapatkan berita gembira, yaitu sang permaisuri Dewi Swargandini telah melahirkan dua anak sekaligus, perempuan dan laki-laki. Akan tetapi, sungguh disayangkan, kedua bayi tersebut berbau amis seperti ikan. Ini dikarenakan Dewi Swargandini semasa masih bernama Endang Adrika dulu pernah mendapatkan kutukan menjadi seekor ikan mas. Tak disangka, bau amisnya kini diwarisi oleh kedua bayi yang baru lahir tersebut. Karena keduanya berbau tidak sedap, maka Prabu Wasupati pun memberi mereka nama Dewi Durgandini dan Raden Durgandana.

Prabu Wasupati sangat sedih bercampur malu melihat keadaan kedua anaknya itu. Ia pun mendatangkan para tabib dan ahli obat, juga brahmana dan pendeta dari berbagai tempat, namun tidak seorang pun yang mampu menyembuhkan penyakit mereka.

Prabu Wasupati lalu bersamadi di dalam sanggar pemujaan selama berhari-hari untuk meminta petunjuk dewata. Pada suatu malam, Batara Narada datang memberi tahu Prabu Wasupati supaya jangan bersedih, karena ini adalah ujian untuk Dewi Durgandini dan Raden Durgandana. Meskipun keduanya berbau amis, namun mereka ditakdirkan kelak akan menurunkan raja-raja Tanah Jawa. Untuk itu, Prabu Wasupati harus menitipkan mereka berdua kepada seorang nelayan di Desa Matsya yang bernama Kyai Dasa. Dengan cara demikian, Dewi Durgandini dan Raden Durgandana kelak akan mendapatkan jalan bagi kesembuhan mereka.

Prabu Wasupati mematuhi petunjuk dari Batara Narada tersebut. Ia lalu membawa kedua bayinya ke Desa Matsya dan menyerahkannya kepada Kyai Dasa untuk dirawat. Kyai Dasa tidak menganggap hal ini sebagai beban, namun justru menganggapnya sebagai suatu kehormatan karena bisa merawat putri dan putra raja Wirata.

PRABU WASUPATI MENJELAJAH PEDESAAN

Delapan tahun berlalu setelah peristiwa kelahiran Dewi Durgandini dan Raden Durgandana. Pada suatu hari Prabu Wasupati pergi mengembara dalam penyamaran untuk melihat secara langsung bagaimana kehidupan masyarakat pedesaan. Bersama dirinya, ikut menyamar pula tiga orang pembesar Kerajaan Wirata, yaitu Aryaprabu Kistawa, Patih Wasita, dan Arya Manungkara.

Ketika perjalanan mereka sampai di Desa Sumendangan, tampak seorang laki-laki berlari dikejar-kejar seekor kerbau. Patih Wasita dan Arya Manungkara segera menangkap kerbau tersebut, sedangkan Prabu Wasupati menanyai si laki-laki yang mengaku bernama Carik Sarjana.

Sungguh mengejutkan, ternyata kerbau yang mengejar Carik Sarjana adalah anaknya sendiri yang telah mengalami kutukan. Kerbau tersebut awalnya seorang pemuda bernama Jaka Wignya. Karena sifatnya yang pemalas membuatnya menjadi bodoh dan tidak punya tata krama. Karena kesalnya, Carik Sarjana pun memaki Jaka Wignya sebagai anak bodoh seperti kerbau yang tidak pantas menggantikan kedudukannya sebagai pamong desa. Tak disangka, seketika wujud Jaka Wignya pun berubah menjadi kerbau akibat ucapan ayahnya itu.

Prabu Wasupati bertanya apakah Carik Sarjana senang jika Jaka Wignya kembali menjadi manusia? Carik Sarjana menjawab tentu saja dirinya senang tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya meruwat kutukan tersebut. Prabu Wasupati bersedia meruwat Jaka Wignya tetapi sebelumnya ia menasihati Carik Sarjana agar jangan hanya menyalahkan anak, tetapi coba lihat dulu apakah sebagai orang tua sudah memberikan pendidikan yang baik untuk anaknya. Orang tua hendaknya menyekolahkan anak kepada guru yang berbudi serta mengajarinya bekerja keras, jangan selalu memanjakannya. Selain itu, sebagai orang tua juga harus selalu memerhatikan anaknya jangan sampai salah dalam pergaulan.

Carik Sarjana menyadari kesalahannya dalam mendidik anak selama ini. Ia pun pasrah mengenai peruwatan Jaka Wignya. Prabu Wasupati lantas meminta Arya Manungkara meruwat kerbau tersebut. Dengan menggunakan Minyak Mukswala, Arya Manungkara berhasil mengubah wujud Jaka Wignya kembali menjadi manusia.

Carik Sarjana sangat berterima kasih. Ia pun menyerahkan Jaka Wignya kepada Prabu Wasupati supaya dijadikan abdi dan diajari bekerja keras. Prabu Wasupati menerima Jaka Wignya dan membawanya ikut serta dalam rombongan.

ARYA MANUNGKARA MERUWAT SUNDEL BOLONG

Prabu Wasupati dan rombongan melanjutkan perjalanan menjelajahi desa demi desa. Ketika sampai di Desa Katripala, hari telah menjelang senja. Mereka menyaksikan para penduduk mengungsi meninggalkan desa karena setiap malam ada hantu sundel bolong yang menyebarkan bau busuk seperti kentut.

Malam itu Prabu Wasupati dan rombongan bersiaga untuk menangkap hantu yang meresahkan penduduk tersebut. Ternyata benar, samar-samar mereka mencium bau busuk yang semakin lama semakin menyengat. Arya Manungkara segera mendatangi sumber bau dan memukulnya menggunakan Akar Bayura. Seketika tampak sesosok peri berwajah cantik yang konon disebut sebagai hantu sundel bolong oleh para penduduk desa.

Peri cantik itu mengaku bernama Dewi Umi yang gentayangan ingin kembali ke kahyangan sebagai bidadari. Menurut petunjuk dewata, Dewi Umi harus datang ke Desa Katripala karena tidak lama lagi akan muncul punggawa Kerajaan Wirata bernama Arya Manungkara yang bisa meruwat dirinya kembali menjadi bidadari. Dewi Umi pun melaksakan petunjuk tersebut. Setelah mendatangi Desa Katripala selama tujuh malam, akhirnya ia bisa bertemu Arya Manungkara yang berada di dalam rombongan Prabu Wasupati.

Sebelum peruwatan dimulai, Prabu Wasupati bertanya mengapa Dewi Umi bisa mengeluarkan bau busuk seperti kentut. Dewi Umi pun menjelaskan bahwa di dalam rahimnya tersimpan sembilan wadah berisi minyak, yaitu minyak gaceng dalam wadah akik merah, minyak sawa dalam wadah akik biru, minyak kowangan dalam wadah akik jingga, minyak nyamu dalam wadah akik kuning, minyak gandarwa dalam wadah akik hitam, minyak sagungu dalam wadah akik abu-abu, minyak srengan dalam wadah akik ungu, minyak twasni dalam wadah akik hijau, dan minyak sari dalam wadah akik putih. Kesembilan jenis minyak itulah yang mengeluarkan bau busuk seperti kentut. Dewi Umi berjanji akan memberikan kesembilan minyak tersebut kepada Arya Manungkara jika bisa meruwat dirinya menjadi bidadari. Arya Manungkara keberatan karena dirinya tentu akan mengeluarkan bau busuk jika menyimpan kesembilan minyak itu. Dewi Umi menjelaskan bahwa minyak-minyak ini mengeluarkan bau busuk hanya apabila disimpan di dalam rahim. Khasiat minyak tersebut apabila dioleskan pada senjata dan digunakan untuk berperang akan membuat musuh lemas kehilangan tenaga.

Setelah menerima penjelasan demikian, Arya Manungkara pun mulai meruwat Dewi Umi menggunakan mantra yang pernah diajarkan oleh ayahnya (Resi Manonbawa). Setelah pembacaan mantra berakhir, wujud Dewi Umi berubah menjadi bidadari. Setelah berterima kasih, wanita itu terbang ke kahyangan dan meninggalkan sembilan butir akik di tanah, berisi minyak sebagaimana yang ia ceritakan tadi.

Arya Manungkara segera memungut kesembilan akik tersebut dan mempersembahkannya kepada Prabu Wasupati untuk disimpan sebagai pusaka Kerajaan Wirata. Prabu Wasupati berterima kasih dan mengajak rombongan untuk kembali ke istana karena penjelajahan untuk kali ini dianggap sudah cukup.

MENINGGALNYA RESI SRIMANASA

Empat tahun kemudian, Prabu Wasupati menerima kabar duka bahwa Resi Srimanasa di Kerajaan Mandraka meninggal dunia. Adik Resi Srimanasa yang menjadi pendeta di Kerajaan Wirata, yaitu Resi Srimadewa pun berangkat melayat ke sana.

Resi Srimanasa merupakan mertua dari Prabu Mandrakusuma dan juga ayah dari Patih Artadriya. Setelah Resi Srimadewa datang, upacara pemakaman untuknya pun diselenggarakan dengan khidmat. Selama beberapa bulan Resi Srimadewa tinggal di Kerajaan Mandraka untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan kakaknya. Setelah dirasa cukup, ia lalu kembali ke Kerajaan Wirata.

RESI SRIMADEWA MERUWAT ULAT TAHUN SELUMBUNG BANDUNG

Dalam perjalanan pulang ke Wirata, Resi Srimadewa berjumpa seorang penduduk desa bernama Prasta yang berlari karena dikejar seekor ulat tahun yang tubuhnya seukuran lumbung bandung. Resi Srimadewa pun melepaskan panah menewaskan ulat tahun tersebut. Secara ajaib, bangkai ulat tahun itu musnah dan berubah menjadi seorang dewa bernama Batara Kalakeya. Ia sangat berterima kasih kepada Resi Srimadewa karena dibebaskan dari kutukan.

Resi Srimadewa bertanya mengapa Batara Kalakeya mengejar-ngejar Prasta. Batara Kalakeya pun bercerita mulai awal bahwa secara tak sengaja ia berbuat kesalahan di kahyangan sehingga mendapat kutukan dari sang ayah (Batara Kaloka) menjadi ulat tahun selumbung bandung. Ulat tahun lalu bertapa di sebuah jurang di Hutan Krendayana. Pada suatu hari seorang warga desa bernama Prasta lewat di dekat jurang itu sambil meratapi nasibnya yang dilanda kemiskinan dan kelaparan. Ulat tahun menghentikan langkah Prasta dan berjanji akan membantu masalahnya asalkan Prasta menyerahkan beberapa tongkol jagung yang ia bawa.

Prasta pun menyerahkan jagung-jagungnya kepada ulat tahun dengan perasaan takut. Si ulat tahun melahap jagung-jagung tersebut sampai habis lalu mengeluarkannya kembali melalui dubur dalam wujud permata yang diberi nama Mustika Boga. Permata itu diberikan kepada Prasta yang mana jika Prasta meminta makanan, maka apa yang ia minta akan langsung tersedia.

Prasta pun mencobanya. Ia meminta makanan kepada permata tersebut dan seketika terciptalah berbagai macam makanan di hadapannya. Ulat tahun pun mempersilakan Prasta pulang membawa Mustika Boga untuk menghidupi keluarganya. Akan tetapi, sebagai syaratnya, setiap tahun Prasta harus menyerahkan seekor kerbau kepada ulat tahun. Prasta mematuhi dan mohon pamit membawa permata ajaib tersebut.

Sesampainya di rumah, Prasta mencipta banyak makanan melalui Mustika Boga, membuat keluarganya terbebas dari kelaparan. Bahkan, dalam beberapa bulan saja Prasta sudah menjadi orang kaya di desanya, yaitu Desa Dyumna karena berdagang makanan. Sesuai perjanjian, pada tahun pertama Prasta pun datang ke Hutan Krendayana untuk menyerahkan seekor kerbau kepada ulat tahun, begitu pula dengan tahun kedua.

Akan tetapi, pada tahun ketiga Prasta tidak lagi menepati janji. Ulat tahun marah dan menyusul ke Desa Dyumna. Prasta pun menjelaskan bahwa ketidakhadirannya ialah karena dilarang oleh pemuka agama setempat yang bernama Danghyang Guntara. Menurut Danghyang Guntara, daripada kerbau itu diserahkan kepada ulat tahun, lebih baik diserahkan untuk kepentingan upacara agama, sehingga kehidupan Prasta akan lebih berkah.

Secara kebetulan, hari itu Danghyang Guntara datang ke rumah Prasta untuk meminta sumbangan upacara keagamaan. Ulat tahun pun menanggapi Danghyang Guntara sesungguhnya adalah pemuka agama yang munafik. Dia melarang Prasta menyerahkan kerbau ke Hutan Krendayana bukan karena tulus demi kebaikan, tetapi ingin memperalat Prasta supaya menjadi penyumbang kepentingan agamanya. Apabila ucapan ulat tahun benar, maka Danghyang Guntara pasti akan menerima balak seperti dirinya.

Ternyata ucapan ulat tahun terbukti benar. Tiba-tiba saja wujud Danghyang Guntara berubah menjadi seekor ulat pula, namun berukuran lebih kecil, yaitu sebesar bantal guling.

Prasta ketakutan melihat peristiwa itu dan buru-buru melarikan diri. Ulat tahun pun mengejar ke mana ia berlari. Kejar-kejaran di antara mereka pun berlangsung beberapa hari hingga akhirnya mereka bertemu Resi Srimadewa yang berhasil meruwat ulat tahun kembali menjadi Batara Kalakeya.

Kini Batara Kalakeya telah kembali ke wujud dewa dan ia berterima kasih atas bantuan Resi Srimadewa. Atas jasa tersebut, Batara Kalakeya mempersilakan Resi Srimadewa meminta hadiah. Seketika Resi Srimadewa pun teringat pada kedua anak Prabu Wasupati yang berbau amis dan kini tinggal di Desa Matsya. Ia lalu meminta supaya Batara Kalakeya menyembuhkan penyakit mereka berdua.

Batara Kalakeya bersedia mengabulkan permintaan tersebut, namun hanya Raden Durgandana saja yang dapat ia sembuhkan. Mengenai Dewi Durgandini kelak akan sembuh oleh Resi Parasara dari Gunung Saptaarga. Akan tetapi, kesembuhan mereka baru bisa terjadi setelah melewati usia dua puluh tahun, dan itu pun mereka harus bertapa lebih dulu. Batara Kalakeya menyarankan supaya Raden Durgandana bertapa ngidang di Hutan Krendayana, sedangkan Dewi Durgandini bertapa ngrame di Sungai Jamuna.

Batara Kalakeya lalu meminta tolong kepada Resi Srimadewa supaya membebaskan Danghyang Guntara dari kutukan. Setelah berpesan demikian, ia pun undur diri kembali ke kahyangan.

RESI SRIMADEWA MERUWAT DANGHYANG GUNTARA

Resi Srimadewa dan Prasta telah kembali ke Desa Dyumna dan menemukan ulat seukuran bantal guling penjelmaan Danghyang Guntara. Dengan kesaktiannya, Resi Srimadewa berhasil meruwat wujud Danghyang Guntara kembali menjadi manusia.

Resi Srimadewa lalu menasihati Danghyang Guntara agar menjadi pemuka agama yang baik dan benar, jangan suka menasihati umat tetapi tidak dapat menasihati diri sendiri, serta jangan pula memupuk kekayaan dengan cara menjual ajaran agama. Danghyang Guntara menyadari kesalahannya dan berjanji akan mematuhi segala nasihat Resi Srimadewa.

RESI SRIMADEWA MELAPOR KEPADA PRABU WASUPATI

Singkat cerita, Resi Srimadewa telah kembali ke istana Wirata dan melapor kepada Prabu Wasupati mengenai pesan Batara Kalakeya sebelum kembali ke kahyangan mengenai peruwatan untuk penyakit Dewi Durgandini dan Raden Durgandana.

Menurut pesan tersebut, kelak jika kedua putra Prabu Wasupati itu telah genap berusia dua puluh tahun, maka mereka harus mulai bertapa untuk mendapatkan kesembuhan. Dewi Durgandini hendaknya bertapa ngrame di Sungai Jamuna, sedangkan Raden Durgandana hendaknya bertapa ngidang di Hutan Krendayana. Kelak Batara Kalakeya akan turun dari kahyangan untuk mengobati Raden Durgandana, sedangkan Dewi Durgandini ditakdirkan sembuh oleh Resi Parasara dari Gunung Saptaarga.

Prabu Wasupati sangat gembira mendengar petunjuk dewa yang dibawa Resi Srimadewa. Ia menghitung saat ini putra dan putrinya yang dititipkan pada Kyai Dasa masih berusia dua belas tahun. Itu berarti masih delapan tahun lagi menjelang usia mereka genap mencapai dua puluh tahun untuk memulai pertapaan masing-masing.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------












Semoga artikel Durgandini - Durgandana Lahir bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter