-->

Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Basutara Krama

Kisah ini menceritakan perkawinan Raden Basutara putra Prabu Basukesti dengan Dewi Retnadi putri Resi Artaetu untuk mempersatukan sesama keturunan Batara Wisnu. Kisah dilanjutkan dengan pelantikan Resi Artaetu sebagai raja Medang Kamulan yang baru menggantikan Prabu Daneswara yang memberontak terhadap Kerajaan Wirata.

Kisah ini disusun berdasarkan
Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan  Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.

Kediri, 11 April 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


PRABU BASUKESTI HENDAK MENIKAHKAN RADEN BASUTARA

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata dihadap Raden Basutara (putra mahkota), Patih Jayaloka, Empu Purbageni, Arya Sriati, dan Arya Manungkara. Mereka sedang membicarakan mimpi Prabu Basukesti bahwa Raden Basutara hendaknya dijodohkan dengan Dewi Retnadi, putri Resi Artaetu dari Padepokan Andongsari.

Patih Jayaloka dan yang lain menyetujui apabila Prabu Basukesti mewujudkan mimpinya, karena ini bisa menjadi sarana mendekatkan antarsesama keturunan Batara Wisnu. Prabu Basukesti adalah putra Prabu Basupati, putra Prabu Basurata, putra Batara Wisnu. Sementara itu, Resi Artaetu adalah putra Prabu Sriwahana, yang merupakan putra Prabu Sri Mahawan, putra Prabu Sri Mahapunggung, putra Batara Wisnu.

Raden Basutara mematuhi kehendak sang ayah jika dirinya harus menikah dengan Dewi Retnadi putri Resi Artaetu. Maka, Prabu Basukesti pun mengutus Arya Manungkara untuk mendampingi Raden Basutara menyampaikan pinangan ke Padepokan Andongsari.

Setelah dirasa cukup, Prabu Basukesti lalu membubarkan pertemuan dan masuk ke dalam kedaton, di mana kedua permaisuri, yaitu Dewi Pancawati dan Dewi Sugandi telah menunggu di gapura.

DEWI RETNADI HILANG DARI PADEPOKAN ANDONGSARI

Sementara itu, Resi Artaetu di Padepokan Andongsari sedang dikunjungi adik-adiknya, yaitu Resi Etudarma dari Andonggading dan Resi Darmahanara dari Andongpangukir, serta sepupu mereka, yaitu Resi Sakra dari Andongdadapan. Mereka sedang membicarakan hilangnya Dewi Retnadi, di mana Resi Artaetu sama-sekali tidak mendapatkan petunjuk tentang keberadaan putrinya tersebut.

Pada saat itulah datang Raden Basutara bersama Arya Manungkara menyampaikan pinangan untuk Dewi Retnadi. Resi Artaetu merasa gembira atas lamaran tersebut, namun ia tidak dapat memberikan jawaban karena Dewi Retnadi saat ini telah hilang dari padepokan.

Mendengar calon istrinya menghilang, Raden Basutara pun menyanggupi untuk membantu mencari. Ia segera mengajak rombongan mohon pamit meninggalkan padepokan tersebut.

PASUKAN WIRATA BERTEMPUR MELAWAN PASUKAN MEDANG KAMULAN

Dalam perjalanan mencari keberadaan Dewi Retnadi, rombongan Raden Basutara bertemu sejumlah prajurit raksasa dari Kerajaan Medang Kamulan. Pemimpin rombongan itu bernama Ditya Margana yang bertanya ke mana arah jalan menuju Gunung Saptaarga.

Arya Manungkara curiga mengapa para raksasa itu mencari Gunung Saptaarga, jangan-jangan mereka hendak menyerang Resi Manumanasa dan Resi Satrukem. Ia pun menanyai para raksasa itu. Namun, para raksasa justru marah dan menyerang Arya Manungkara. Maka, terjadilah pertempuran di antara mereka. Banyak para prajurit raksasa yang tewas di tangan Arya Manungkara dan Raden Basutara.

Ditya Margana akhirnya tertangkap oleh Arya Manungkara dan dipaksa menyebutkan alasannya menuju Gunung Saptaarga. Raksasa itu menjawab bahwa ia diutus rajanya, yaitu Prabu Daneswara untuk meminta ilmu pengasihan dari Resi Manumanasa. Ilmu pengasihan tersebut akan digunakan untuk Dewi Retnadi yang saat ini disekap oleh Prabu Daneswara.

Karena Ditya Margana telah berterus terang, Arya Manungkara pun melepaskannya. Kini jelas sudah kalau Dewi Retnadi menghilang dari padepokan adalah karena diculik Prabu Daneswara. Raden Basutara pun mengajak Arya Manungkara untuk segera mempersiapkan pasukan menggempur Kerajaan Medang Kamulan. Akan tetapi, Arya Manungkara tidak setuju. Ia mengusulkan sebaiknya Raden Basutara meminta petunjuk kepada Resi Manumanasa saja tentang bagaimana caranya membebaskan Dewi Retnadi tanpa harus menimbulkan banyak korban. Karena jika Raden Basutara langsung menyerang Kerajaan Medang Kamulan dengan membawa banyak prajurit, bisa-bisa Prabu Daneswara menjadikan Dewi Retnadi sebagai sandera. Tentunya ini akan sangat berbahaya.

Raden Basutara setuju. Mereka lalu bersama-sama berangkat menuju ke Gunung Saptaarga.

RADEN BASUTARA MEMINTA BANTUAN RESI MANUMANASA

Sesampainya di Padepokan Ratawu di puncak Gunung Saptaarga, Raden Basutara dan Arya Manungkara disambut ramah oleh Resi Manumanasa beserta Resi Satrukem. Raden Basutara segera menyampaikan permohonannya untuk dibantu membebaskan Dewi Retnadi, putri Resi Artaetu dari Andongsari yang kini disekap Prabu Daneswara di Kerajaan Medang Kamulan.

Resi Manumanasa prihatin atas permasalahan yang dihadapi Raden Basutara. Ia pun memerintahkan Resi Satrukem untuk membantu Raden Basutara menyusup ke istana Medang Kamulan, sedangkan Arya Manungkara sebaiknya kembali ke Padepokan Andongsari dan mempersiapkan pasukan di sana.

Resi Satrukem mematuhi perintah sang ayah. Ia lalu berangkat menemani Raden Basutara menuju Kerajaan Medang Kamulan. Sementara itu, Arya Manungkara mohon pamit kembali ke Andongsari dengan membawa pasukan Wirata untuk menghadapi serangan balasan dari pihak Medang Kamulan.

RADEN BASUTARA MENCULIK DEWI RETNADI

Raden Basutara dan Resi Satrukem telah sampai di Kerajaan Medang Kamulan. Resi Satrukem mengerahkan Aji Panglimunan sambil memegang tangan Raden Basutara, sehingga wujud mereka berdua menjadi tidak terlihat. Keduanya lalu masuk ke dalam istana dan mengintai pembicaraan Prabu Daneswara dan Patih Citradana.

Dalam pembicaraan itu, Prabu Daneswara mengutarakan kekesalannya karena sampai saat ini Dewi Retnadi belum juga menerima cintanya. Untuk itu, ia terpaksa mengirim Ditya Margana ke Gunung Saptaarga supaya meminta ilmu pengasihan kepada Resi Manumanasa, seorang pendeta yang sangat terkenal. Akan tetapi, sampai sekarang Ditya Margana belum juga kembali.

Setelah menguping pembicaraan tersebut, Resi Satrukem mengajak Raden Basutara menyusup ke dalam kaputren tempat Dewi Retnadi disembunyikan. Sesampainya di sana, Resi Satrukem segera melumpuhkan para penjaga, sedangkan Raden Basutara masuk menemui Dewi Retnadi dan mengajaknya pergi meninggalkan istana Medang Kamulan.

Tidak lama kemudian, Prabu Daneswara datang pula ke kaputren dan ia terkejut melihat para penjaga dalam keadaan pingsan sedangkan Dewi Retnadi telah lenyap pula. Ia sangat marah dan segera mengajak Patih Citradana untuk mengejar para penyusup tersebut.

RADEN BASUTARA DIJODOHKAN DENGAN DEWI RETNADI

Raden Basutara dan Resi Satrukem telah sampai di Padepokan Andongsari untuk mengembalikan Dewi Retnadi. Resi Artaetu sangat gembira dan menetapkan Raden Basutara sebagai calon suami untuk putrinya itu.

Tidak lama kemudian Prabu Daneswara dan Patih Citradana datang membawa pasukan Medang Kamulan untuk menggempur Padepokan Andongsari dan merebut Dewi Retnadi. Arya Manungkara yang sudah bersiaga dengan para prajurit Wirata segera maju menghadapi serangan tersebut.

Pertempuran sengit pun terjadi. Arya Manungkara yang bersenjatakan Minyak Manihara dengan cekatan mengubah banyak prajurit Medang Kamulan menjadi patung batu. Prabu Daneswara dan Patih Citradana terjun ke medan pertempuran, namun keduanya tewas di tangan Resi Satrukem yang bersenjatakan panah Saradibya.

RESI ARTAETU MENJADI RAJA MEDANG KAMULAN

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata menyambut gembira keberhasilan Raden Basutara dalam menemukan hilangnya Dewi Retnadi. Ia juga berterima kasih atas segala bantuan yang diberikan oleh Resi Satrukem, begitu pula kepada Arya Manungkara yang menjalankan tugasnya dengan baik. Maka, pada hari yang ditentukan, diselenggarakanlah upacara pernikahan antara Raden Basutara dan Dewi Retnadi yang dihadiri pula oleh Resi Artaetu, Resi Etudarma, Resi Darmahanara, dan Resi Sakra.

Setelah Prabu Daneswara tewas, Kerajaan Medang Kamulan kini kosong tidak memiliki raja. Kerajaan tersebut pada zaman dulu dipimpin oleh Sri Maharaja Purwacandra Cingkaradewa yang dikalahkan oleh Brahmana Wisaka dari Tanah Hindustan. Brahmana Wisaka kemudian menjadi raja bergelar Sri Maharaja Wisaka. Setelah Sri Maharaja Wisaka kembali ke Tanah Hindustan, takhta Medang Kamulan diwarisi oleh muridnya, yaitu Prabu Sriwahana yang juga keturunan Batara Wisnu.

Prabu Sriwahana meninggal dunia saat putra-putranya masih kecil. Kerajaan Medang Kamulan akhirnya menjadi kota mati karena tidak memiliki raja, hingga akhirnya dibangun kembali oleh Prabu Daneswara tersebut. Kini Prabu Daneswara telah tewas. Prabu Basukesti merasa sangat pantas apabila Kerajaan Medang Kamulan dipimpin oleh putra tertua Prabu Sriwahana, yaitu Resi Artaetu.

Maka, pada hari yang dianggap baik, Prabu Basukesti pun melantik Resi Artaetu sebagai raja Medang Kamulan yang baru, dengan bergelar Prabu Maheswara. Arya Manungkara juga diperintahkan untuk mengembalikan wujud para prajurit Medang Kamulan yang telah diubahnya menjadi patung batu. Arya Manungkara mematuhi perintah tersebut. Begitu kembali ke wujud manusia, para prajurit itu segera memohon ampun. Prabu Basukesti pun memerintahkan mereka untuk bersumpah setia mengabdi kepada Prabu Maheswara. Para prajurit tersebut mematuhi dan sangat berterima kasih atas pengampunan yang diberikan.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke : daftar isi





Semoga artikel Basutara Krama bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter