-->

Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Empu Purbageni

Kisah ini menceritakan Prabu Basukesti mendapatkan Jamur Dipa dari bekas tempat samadi Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu yang kemudian diolah menjadi kue payasa untuk dimakan Dewi Sugandi. Kisah dilanjutkan dengan hilangnya Dewi Dwarawati yang berhasil ditemukan oleh Empu Purbageni, putra Empu Dewayasa.

Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Pustakaraja Purwa (Surakarta) karya Ngabehi Ranggawarsita yang dipadukan dengan Serat Pustakaraja Purwa (Ngasinan) karya Ki Tristuti Suryasaputra, dengan sedikit pengembangan.


Kediri, 23 Maret 2015

Heri Purwanto

------------------------------ ooo ------------------------------


MENINGGALNYA RESI BRAHMANAWEDA DAN RESI BRAHMANAKESTU

Prabu Basukesti di Kerajaan Wirata dihadap Patih Jatikanda, Arya Jayaloka, Empu Dewayasa, dan para punggawa lainnya. Mereka sedang membicarakan tentang dua sesepuh istana, yaitu Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu yang sudah lama tidak menghadiri pertemuan.

Tidak lama kemudian datanglah Resi Suganda (mertua Prabu Basukesti yang juga putra Resi Brahmanakestu) mengabarkan bahwa kedua sesepuh tersebut telah meninggal dunia. Mereka berdua meninggal ketika sedang bersamadi di sanggar pemujaan. Secara ajaib, tubuh Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu sama-sama musnah seperti asap, dan di bekas tempat mereka bersamadi tumbuh semacam jamur, yang disebut Jamur Dipa. Yang lebih mengherankan lagi, Resi Suganda ternyata tidak mampu memetik jamur tersebut.

Prabu Basukesti dan para hadirin sangat terkejut dan berduka, terutama Patih Jatikanda yang merupakan putra Resi Brahmanaweda. Di samping itu, mereka juga penasaran mendengar adanya tumbuhan Jamur Dipa tersebut. Seketika Prabu Basukesti teringat pada riwayat kakeknya, yaitu Prabu Basurata pendiri Kerajaan Wirata yang pernah mendapatkan Jamur Dipa dari Tanah Hindustan. Jamur Dipa tersebut diolah menjadi kue payasa yang kemudian dimakan oleh sang permaisuri Dewi Brahmaniyuta. Setelah memakan kue payasa tersebut, Dewi Brahmaniyuta bisa mengandung dan melahirkan Prabu Basupati (ayah dari Prabu Basukesti).

Maka, Prabu Basukesti pun mengajak Patih Jatikanda, Arya Jayaloka, dan Empu Dewayasa berangkat menuju ke sanggar pemujaan tempat Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu meninggal.

PRABU BASUKESTI MEMETIK JAMUR DIPA

Prabu Basukesti dan rombongan telah sampai di sanggar pemujaan. Mereka lalu mengheningkan cipta untuk mendoakan arwah Resi Brahmanaweda dan Resi Brahmanakestu. Setelah itu, Prabu Basukesti pun memerintahkan Patih Jatikanda, Empu Dewayasa, dan Arya Jayaloka untuk memetik Jamur Dipa yang tumbuh di tempat itu. Akan tetapi, mereka ternyata tidak mampu memetik tumbuhan kecil tersebut.

Prabu Basukesti lalu turun tangan sendiri untuk memetiknya. Sungguh aneh, begitu ia yang memetik, Jamur Dipa tersebut langsung tercabut dari tempatnya tumbuh. Tiba-tiba muncul pula cahaya teja yang terang benderang dan kemudian masuk ke dalam tubuh Prabu Basukesti melalui ubun-ubun.

Resi Suganda, Patih Jatikanda, Empu Dewayasa, dan Arya Jayaloka terkesima menyaksikan pemandangan tersebut. Mereka melihat wajah Prabu Basukesti menjadi lebih tampan dan berseri-seri setelah kemasukan cahaya teja dari Jamur Dipa. Setelah dirasa cukup, Prabu Basukesti lalu mengajak rombongan kembali ke istana.

Sesampainya di istana, Prabu Basukesti segera menyerahkan Jamur Dipa kepada juru masak untuk diolah menjadi kue payasa. Setelah kue matang, Prabu Basukesti menyerahkannya kepada dua permaisuri, yaitu Dewi Pancawati dan Dewi Sugandi. Akan tetapi, Dewi Pancawati menolak karena dirinya sudah ditakdirkan mandul tidak memiliki anak. Maka, semua kue payasa pun diberikan kepada Dewi Sugandi.

Prabu Basukesti berharap setelah memakan kue payasa dari Jamur Dipa tersebut, Dewi Sugandi dapat mengandung seorang anak laki-laki yang kelak bisa menjadi pangeran mahkota Kerajaan Wirata.

DEWI DWARAWATI HILANG DICULIK

Beberapa bulan setelah peristiwa Jamur Dipa tersebut, Prabu Basukesti dihadapkan pada sebuah permasalahan, yaitu hilangnya Dewi Dwarawati, adik bungsu Dewi Pancawati. Sang Prabu telah berusaha mencari saudari iparnya itu ke mana-mana namun tidak juga mendapatkan hasil. Ia lalu mengadakan sayembara, barangsiapa bisa menemukan Dewi Dwarawati maka akan dinikahkan dengannya.

Empu Dewayasa (kepala pembuat senjata di Kerajaan Wirata) segera memerintahkan putranya yang bernama Empu Purbageni untuk mengikuti sayembara tersebut. Empu Purbageni sendiri baru saja pulang dari Pulau Nusakencana untuk mencari bijih besi Brahmakadali. Begitu mendapat perintah demikian dari sang ayah, ia pun berangkat mencari hilangnya Dewi Dwarawati.

EMPU PURBAGENI MEMBUNUH DUA RAKSASA PENCULIK


Setelah melakukan penelusuran berhari-hari, Empu Purbageni tetap saja tidak mendapatkan kabar tentang keberadaan Dewi Dwarawati. Ia kemudian bersamadi memohon petunjuk dewata. Pada saat itulah datang Batara Ramayadi, dewa para empu, yang turun dari kahyangan untuk memberikan petunjuk bahwa Empu Purbageni harus pergi ke Hutan Matiraga jika ingin menemukan Dewi Dwarawati. Empu Purbageni berterima kasih, lalu mohon restu berangkat menuju ke hutan tersebut.

Sesampainya di Hutan Matiraga, Empu Purbageni menemukan sebuah gua yang mencurigakan. Sayup-sayup terdengar suara dua orang berbicara dari dalam gua. Empu Purbageni pun bersembunyi di dekat mulut gua untuk mendengarkan percakapan mereka. Rupanya yang sedang berbicara itu adalah dua orang kakak-beradik laki-laki dan perempuan. Sepertinya mereka sedang berdebat tentang seorang gadis yang telah mereka culik. Si kakak ingin menikahinya, sedangkan si adik ingin memangsa gadis itu.

Empu Purbageni yakin kalau wanita yang telah mereka culik adalah Dewi Dwarawati. Ia lalu berteriak memanggil laki-laki dan perempuan yang sedang berdebat itu sehingga mereka pun keluar dari dalam gua. Laki-laki dan perempuan ini ternyata berwujud raksasa dan raksasi. Si raksasa bernama Ditya Aswana, sedangkan adiknya bernama Dewi Aswita. Mereka telah menculik seorang gadis dari Kerajaan Wirata untuk dimangsa, tetapi pada akhirnya justru berdebat sendiri. Ditya Aswana menghitung gadis itu tidak termasuk julung sehingga tidak boleh dimangsa, sedangkan Dewi Aswita bersikeras ingin memangsanya dan menuduh si kakak mencari-cari alasan karena tertarik pada kecantikan gadis tersebut.

Empu Purbageni bersedia menjadi penengah di antara mereka, namun ia tidak paham soal perhitungan julung. Ditya Aswana dan Dewi Aswita pun menjelaskan bahwa mereka berdua adalah pemuja Batara Kala dan sebulan sekali selalu memangsa manusia. Akan tetapi, yang dimangsa hanyalah manusia yang terhitung julung, yaitu julungwangi (lahir saat matahari terbit), julungsungsang (lahir saat tengah hari), julungsarab (lahir saat matahari terbenam), dan julungpujud (lahir saat petang hari). Menurut perhitungan Ditya Aswana, gadis yang mereka culik tidak termasuk julung sehingga tidak boleh dimangsa. Di lain pihak, Dewi Aswita menuduh kakaknya mengada-ada karena tertarik pada kecantikan gadis itu.

Empu Purbageni telah memahami duduk permasalahannya. Ia lalu memutuskan bahwa gadis itu tidak boleh dinikahi Ditya Aswana, juga tidak boleh dimangsa Dewi Aswita, tetapi akan dikembalikan kepada rajanya, yaitu Prabu Basukesti di Wirata. Ditya Aswana dan Dewi Aswita marah merasa dipermainkan. Mereka lalu menyerang Empu Purbageni dan terjadilah pertarungan sengit. Pada akhirnya, kedua kakak beradik itu tewas dengan kepala pecah terkena hantaman besi Brahmakadali milik Empu Purbageni.

EMPU PURBAGENI MEMBAWA PULANG DEWI DWARAWATI

Empu Purbageni lalu masuk ke dalam gua tempat Dewi Dwarawati disekap. Kepada adik ipar Prabu Basukesti itu ia memperkenalkan diri sebagai putra Empu Dewayasa yang ditugasi untuk membawanya pulang ke Kerajaan Wirata. Dewi Dwarawati sangat berterima kasih dirinya telah diselamatkan dari kedua raksasa tadi.

Begitu keluar dari gua, Empu Purbageni dan Dewi Dwarawati melihat ada sejumlah raksasa tiba-tiba datang dan meratapi mayat Ditya Aswana dan Dewi Aswita. Para raksasa itu berasal dari Kerajaan Medang Kumuwung yang dipimpin oleh Patih Kalawreka. Mereka mendapat tugas dari Prabu Kunjanawreka untuk mencari Ditya Aswana dan Dewi Aswita yang telah lama meninggalkan istana. Rupanya, kedua raksasa kakak beradik tersebut adalah putra dan putri raja Medang Kumuwung.

Mengetahui Ditya Aswana dan Dewi Aswita telah tewas di tangan Empu Purbageni, Patih Kalawreka sangat marah dan memeritahkan para prajurit untuk menyerangnya. Empu Purbageni dengan lincah menghadapi para raksasa tersebut, namun lama-lama terdesak juga.

Pada saat itulah muncul putra sulung Resi Manumanasa, yaitu Bambang Satrukem yang sedang berkelana ditemani Janggan Smara. Pemuda itu segera turun tangan membantu Empu Purbageni mengalahkan para raksasa tersebut. Merasa terdesak, Patih Kalawreka akhirnya mengajak pasukannya meninggalkan Hutan Matiraga dengan membawa serta mayat Ditya Aswana dan Dewi Aswita.

Empu Purbageni lalu berkenalan dengan Bambang Satrukem dan mereka sama-sama gembira karena ternyata masih saudara. Empu Purbageni adalah keponakan mendiang Empu Kanomayasa, sedangkan Bambang Satrukem adalah putra Resi Manumanasa. Adapun Empu Kanomayasa adalah kakak ipar Resi Manumanasa.

PERNIKAHAN EMPU PURBAGENI DENGAN DEWI DWARAWATI

Empu Purbageni telah tiba di Kerajaan Wirata dan menyerahkan Dewi Dwarawati kepada Prabu Basukesti. Bambang Satrukem juga ikut menemani. Prabu Basukesti sangat gembira dan sesuai janjinya, ia pun menjodohkan Dewi Dwarawati dengan Empu Purbageni. Dewi Dwarawati mematuhi keputusan tersebut karena pada dasarnya ia juga menyukai Empu Purbageni yang telah menyelamatkan dirinya dari marabahaya.

Karena ayah Dewi Dwarawati, yaitu Arya Awangga telah meninggal, maka yang menyelenggarakan pernikahan adalah Prabu Basukesti. Upacara pernikahan itu dilaksanakan di rumah Patih Jatikanda yang terletak di samping istana. Inilah yang kemudian ditiru masyarakat Jawa, bahwa jika menikahkan saudara hendaknya dilakukan di samping rumah, bukan di depan rumah.

Setelah upacara pernikahan selesai, tiba-tiba Kerajaan Wirata diserang pasukan raksasa Medang Kumuwung yang dipimpin langsung oleh Prabu Kunjanawreka dan Patih Kalawreka. Kedatangan mereka adalah untuk membalas kematian Ditya Aswana dan Dewi Aswita yang tewas di tangan Empu Purbageni.

Prabu Basukesti segera memerintahkan Arya Jayaloka memimpin pasukan untuk menghadapi serangan tersebut. Bambang Satrukem juga mohon izin kepada Prabu Basukesti, kemudian ikut terjun ke medan pertempuran. Setelah bertempur beberapa lama, Bambang Satrukem berhasil memenggal kepala Prabu Kunjanawreka menggunakan panah Sarotama, sedangkan Arya Jayaloka dapat menewaskan Patih Kalawreka.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu, Prabu Basukesti mendapatkan kebahagiaan lagi, yaitu Dewi Sugandi yang telah memakan kue payasa Jamur Dipa, kini melahirkan dua orang anak sekaligus. Perempuan dan laki-laki. Yang perempuan diberi nama Dewi Basutari, sedangkan yang laki-laki diberi nama Raden Basutara.

------------------------------ TANCEB KAYON ------------------------------


kembali ke : daftar isi




Semoga artikel Empu Purbageni bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter