-->

Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Tradisi Nancebkeun Batu Tutunggulan Masyarakat Cipeundeuy

Nyi Mas Kumbang Karancang ti pasanggrahan sok ngadon nyawang di Batulawang/pabuburit lungsur ka tampian Cileungsir ngadon diangir Mandi/kagirang mapay wahangan kokojayan di Leuwipanjang/naek ka tonggoh silanglang ka tampian Cinyenang//

Demikian penggalan bait pantun masyarakat Kp Nyenang, Ds. Nyenang, Cipeundeuy saat tradisi Nancebkeun Batu Tutunggulan Nyi Mas Kumbang Karancang. Sebuah tradisi masyarakat Cipeundeuy saat mengenang upaya syiar Islam yang dilakukan oleh Nyi Mas Kumbang Rancang. Tradisi ini dilakukan masyarakat Cipeundeuy setiap akhir bulan Mulud.

Sosok Nyi Mas Kumbang Karangcang atau yang lebih dikenal dengan nama Nyi Mas Subang Larang selama ini hanya dikenal oleh sebagian besar pelaku wisata jiarah atau religius. Sementara pakar ataupun peneliti sejarah, khususnya sejarah penyebaran agama Islam di tanah Sunda, maupun masyarakat awam lebih mengenal sosok Sunan Gunung Djati, atau sosok Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.

Tidak demikian halnya dengan masyarakat di Kampung Nyenang, Ds. Nyenang, Kec. Cipeundeuy Kab. Bandung Barat. Sosok Nyi Mas Kumbang Karancang atau Nyi Mas Subang Larang, pernah bermukim di Kampung Nyenang berdasarkan bukti-bukti peninggalanya berupa makom atau patilasan, serta pantun yang selalu disuarakan para punggawanya.

“Berdasarkan hitungan atau penanggalan Islam, bulan Mulud yang merupakan hari lahir Nabi Muhammad SAW merupakan waktu sangat baik untuk melakukan berbagai kegiatan yang menyangkut masyarakat banyak,terutama yang berkenaan dengan syiar Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Nyi Mas Kumbang Karancang,” ujar sesepuh Kampung Nyenang, Abah Tatang Andi Saputra, Minggu (25/1/2015).

Tradisi “Nanjebkeun Batu Tutunggulan Nyi Mas Kumbang Karancang”, yang berlangsung mulai pukul 9.00 WIB diawali dengan mengambil batu untuk

tutunggulan (tanda) di Leuwi Cileungsir oleh para pemuda diikuti sesepuh kampong. Rombongan berhenti sejenak di Batulawang yang berupa bukit menyerupai lima tumpukan batu besar dan dilanjutkan ke perkampungan.

Kehadiran rombongan membawa batu tutunggulan disambut oleh kaum ibu Sepuh yang memainkan tutunggulan (lisung). Usai batu diterima Kabid Kebudayaan Disparbud Kab. Bandung Barat Asep Dedi, kembali diserahkan ke kuncen atau juru pelihara makom atau patilasan Nyi Mas Kumbang Karancang, Syaiful Huda dan Herlan.

Untuk kemudian kedua batu untuk penanda patilasan Nyi Mas Kumbang Karancang dibawa menuju lokasi makom. Tidak banyak prosesi yang dilakukan masyarakat di makom, hanya sambutan dari sesepuh kampung

Tatang Andi Saputra dan Kabid Kebudayaan Disparbud Kab. Bandung Barat dan dipungkas dengan doa bersama, untuk kemudian ratusan masyarakat makan nasi tumpeng yang jumlahnya mencapai 80 nasi tumpeng beserta lauk pauk khas Kampung Nyenang.

Keberadaan Nyi Mas Kumbang Karancang atau Nyi Mas Subang Larang yang merupakan puteri dari Ki Gendeng Tapa, penguasa Syahbandar Muara Jati

Cirebon yang juga penyebar agama Islam di pesisir laut Jawa abad ke 15. Setelah menuntut ilmu agama Islam dari Syekh Quro atau Syekh Hasanudin selama tiga tahun Nyi Mas Kumbang Karangcang kembali ke Cirebon dan menikah dengan Pangeran Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi) sebagai istri ketiga.

Dari hasil perkawinannya dengan Prabu Siliwangi, lahir tiga anak, Raden Walangsungsang, Nyi Mas Rara Santang dan Raden Kian Santang. Salah seorang puterinya, Nyi Mas Rara Santang menikah dengan Syeh Syarif Abdullah dan lahir Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati.

Karena perseteruan Nyi Mas Kumbang Larang dengan kedua istri Prabu Siliwangi, akhirnya Nyi Mas Kumbang Karancang memilih untuk keluar Dari istana Pakuan Padjajaran dan menyebarkan agama Islam. “Karena latar belakang itulah kami merasa tradisi untuk mengenang upaya-upayaNyi Mas Kumbang Karancang dalam syiar Islam, setiap akhir Mulud kampung menggelar tradisi Nanjebkeun Batu Tutunggulan Nyi Mas KumbangKarancang,” ujar Abah Tatang Andi Saputra.

sumber: http://www.galamedianews.com/budaya/7674/tradisi-nancebkeun-batu-tutunggulan-masyarakat-cipeundeuy.html
Semoga artikel Tradisi Nancebkeun Batu Tutunggulan Masyarakat Cipeundeuy bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter