-->

Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Tradisi Caosan Ala Dusun Tutup Ngisor Magelang


Lantunan gendhing jawa mengalun indah dari sebuah pendopo di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kamis (8/8/2013). Irama yang harmonis dari gamelan tersebut terdengar mengiringi warga yang saling bersilaturahmi di hari pertama Lebaran ini.

Di hadapan perangkat alat musik gamelan, sekitar sepuluh orang tampak mengenakan pakaian khas Jawa dan blangkon. Dengan tenang, mereka mengalunkan melodi indah yang membuat keheningan desa di lereng Gunung Merapi tersebut semakin syahdu.

Ketua Padepokan Seni Tjipta Boedaja, Dusun Tutup Ngisor, Sitras Anjilin mengatakan kegiatan yang dilakukan oleh kerabat dan putranya tersebut adalah tradisi caosan. Caosan berarti persembahan.

"Tradisi caosan ini rutin kami lakukan sehabis salat ied. Ini untuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kami berdoa melalui sarana gamelan," kata Sitras, Kamis (8/8/2013).

Sitras mengatakan Caosan tersebut dilantunkan usai kenduri yang dilakukan setelah warga mengadakan salat Ied. Menurut Sitras, persembahan ini tidak hanya dilakukan saat lebaran saja, namun ada juga caosan mingguan dan bulanan.

Tradisi caosan saat lebaran hari pertama ini sudah dilakukan sejak tahun 1950an. Atau 13 tahun setelah padepokan seni Tjipta Boedaja dibangun.  Dalam tradisi caosan ini, ada 11 tembang wajib yang harus dimainkan hingga sekitar 2 jam.

Sitras menjelaskan beberapa tembang diantaranya ladrang Sri Wilujeng yang berarti mohon keselamatan. Setelah itu dilanjutkan dengan tembang Subo kastowo, yang berarti menghadap kepada Tuhan. Sementara di bagian lain, terdapat tembang Sri Kacarios, yang berasal dari kata carios yang artinya cerita yang mengagungkan pusat keagungan, yaitu Kerajaan Jawa.

Selain itu beberapa tembang lain diantaranya, ladrang Sri Rejeki, Sri Dandang, Sri Katon, Puspawarna, Asmarandana, Uler Kambang Jineman, dan lainnya.
Ia mengatakan beberapa lirik tembang juga merupakan wangsalan dari bahasa jawa.

"Semua pemain gamelan adalah kerabat saya. Artinya sudah ada regenerasi. Saat ini memasuki generasi keempat," terang Sitras.

Sitras menambahkan setelah tradisi Caosan, terdapat tradisi syukuran yang dilaksanakan di lain hari. "Intinya kami senang-senang tapi tetap beribadah dan melesatarikan tradisi," jelasnya.

Salah satu pemain saron, Ganang mengatakan kegiatan ini merupakan kegiatan rutin setiap tahun. "Rasanya seperti beribadah dan doa," jelasnya.

Semoga artikel Tradisi Caosan Ala Dusun Tutup Ngisor Magelang bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter