-->

Ads 720 x 90

Fiksioner Free Blogger Theme Download

Nyadran di Giyanti Wonosobo:Kajian Fungsional Struktural

A. PENDAHULUAN

Masyarakat Jawa merupakan lahan yang potensial untuk menggali informasi budaya dengan segala pikiran, pandangan dan kehidupannya.Magnis Suseno dalam Triwikromo (2006: 11) mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai cirri khas, yaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombang-gelombang kebudayaan yang dating dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan dari luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsure-unsur budaya yang kemudian menyatu dan menjadi milik kebudayaan Jawa seperti sekarang ini, di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa.
Pandangan manusia Jawa terhadap dunia mengisyaratkan bahwa baik dunia yang secara fisik kelihatan maupun dunia yang tidak kelihatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dalam kesatuan itu semua gejala mempunyai tempat serta berada dalam hubungan-hubungan yang saling melengkapi dan terintregasi satu sama lain, sehingga membentuk tata alam yang sangat teratur (Magnis Suseno,1986:84).
Eliade dalam Triwikromo (2006:13) menegaskan bahwa mitos-mitos religius telah menjadi model dalam bertindak dan merupakan salah satu cara manusia dalam menjalin hubungan dengan kenyataan-kenyataan fisik dan lingkungannya. Pandangan semacam ini akan memberikan ruang untuk menempatkan mitos yang hidup dan berkembang dalam alam pikiran suatu masyarakat sebagai salah satu “pintu masuk” dalam usaha mengetahui dan memahami budaya mereka.
Salah satu tradisi yang masih dipertahankan dan tetap berfungsi dalam masyarakat yang semakin mengglobal adalah tradisis Nyadran Giyanti di Wonosobo. Upacara Nyadran Giyanti masih dipercaya dan difungsikan masyarakat pendukungnya sebagai warisan turun-temurun dari nenek moyang desa Giyanti yang percaya bahwa nenek moyang mereka juga berperan dengan kemakmuran serta ketentraman warga masyarakat Giyanti. Menurut penyelidikan De Jong dalam Herusatoto( 1987:74) 
Orang-orang yang mempunyai padangan berbeda tentang Tuhan, dunia dan manusia, mungkin dalam praktik memperlihatkan sikap hidup yang sama. Suatu sikap tidak hanya berpatokan pada agama yang dianut oleh seseorang, melainkan juga dengan adapt dan latar belakang kebudayaanya, bahkan juga watak bangsanya.

Permasalahan yang muncul dalam pembahasan ini adalah bagaimanakah struktur bentuk upacara Nyadran Giyanti tersebut dan bagaimana kedudukan upacara Nyadran Giyanti bagi masyarakat sehingga masih tetap dilestarikan? Pembahasan ini akan menggunakan dengan teori-teori sosiologi yaitu teori fungsional struktural Tallcon Parson.
Adapun tujuan pembahasan ini untuk mengkaji lebih dalam kedudukan tradisi Upacara Nyadran yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat sekarang dalam konteks sosiologi. Sedangkan manfaat pembahasan ini bagi penulis untuk menganalisa keterkaitan tradisi Nyadran Giyanti dengan teori sosiologi yang ada, bagi masyarakat luas dapat berapresiasi terhadap tradisi Upacara Nyadran Giyanti, serta bagi pemerintah dan dinas terkait dapat menentukan kebijakan-kebijakan untuk tetap eksisnya tradisi upacara Nyadran Giyanti


B. TRADISI UPACARA NYADRAN GIYANTI

Tradisi upacara Nyadran Giyanti merupakan kegiatan rutinitas tahunan masyarakat desa Giyanti setiap 1 Suro di daerah Wonosobo. Menurut sesepuh desa upacara nyadran selalu dilakukan oleh masyarakat desa Giyanti sebagai bentuk rasa syukur atas keberkahan yang melimpah dan permohonan keselamatan. Sebelum acara inti Nyadran di Giyanti masyarakat membuka rumah mereka untuk acara beranjangsana atau silaturaahmi dengan tujuan mempererat hubungan secara individu maupun kemasyarakatan. Adapun prosesi Upacara Nyadran Giyanti terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan yaitu:
a. Nyadran di Makam
Nyadran mempunyai makna mengunjungi makam leluhur yang dikeramatkan. Mengunjungi beberapa makam leluhur atau pendiri desa 
Giyanti dengan membawa sesaji berupa tumpeng, telur, buah-buahan, beberapa jenis minuman seperti air teh, kopi, dawet, serta beraneka buah-buahan dan kembang setaman. Selain itu juga ada yang membawa tandu replika pendiri desa Giyanti yang terbuat dari kain.Tipologi orang Jawa adalah hidup damai, selaras, serasi dan seimbang sehingga dalam menjalani laku kehidupan, orang Jawa cenderung tidak mau mengganggu dan di ganggu.Meskipun orang Jawa percaya kepa Tuhan Yang Maha Esa tetapi mereka masih melakukan “tegur sapa” kepada hal-hal gaib ( Giri, 2010:16)
b. Tenongan
Tenongan adalah sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bamboo berbentuk bulat dan memiliki tutup bulat juga. Tenongan digunakan untuk wadah makanan atau jajan pasar berupa pala kependem misalnya; ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah serta umbi-umbian yang lain. Berbagai macam buah-buahan, nasi dan lauk lengkap, bubur, jagung, kerupuk, ketimun dan masih banyak jenis makanan yang lain. Tenongan dibawa oleh ibu-ibu dan remaja putri berarak-arakan menuju ke pendopo desa.
c. Prosesi Upacara di Pendopo Desa.
Prosesi di Pendopo desa diawali peletakan sesaji di bawah pohon beringin depan Pendopo desa.Pohon beringin diyakini menjadi tempat leluhur, danyang desa. Menurut Purwadi (2009:16) bahwa pohon beringin , kuburan tua, sumber air yang tersembunyi menjadi tempat keramat atau punden.
d. Rakanan.
Rakanan adalah pembagian makanan yang ada dalam tenongan. Warga bebas untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan warga desa Giyanti secara berebutan ( rayahan).
e. Festival Embek
Pada upacara Nyadran Giyanti selalu dimeriahkan oleh berbagai pertunjukkan seni diantaranya Festival Emblek yang diikuti dari beberapa desa. Peserta untuk tahun ini adalah 15 peserta.
Emblek atau kuda lumping menggambarkan para prajurit 
berkuda, karena kesenian ini mengambil ceritera babad Kediri atau 
kisah Raden Panji Asmorobangun. Dikisahkan, Raden Panji dari Kerajaan 
Jenggala, bersambung asmara dengan Dewi Sekartaji (Dewi Candrakirana), 
Putri Raja Kediri.Komposisi tari Emblek pada umumnya adalah terdiri dari 7 orang penari dengan rincian 1 pimpinan pasukan berkuda dan 6Prajurit.
Property yang digunakan diantaranya kuda yang terbuat dari kepang (emblek), senjata seperti pedang dan tombak kecil. Bentuk tari Emblek di Wonosobo sudah mengalami perkembangan terutama pada penggarapan estetika gerak dan busana yang digunakan lebih variatif.

f. Lenggeran

Kesenian Topeng Lengger sangat populer di kalangan masyarakat 
Wonosobo, karena selain sebagai tontonan juga bermakna sebagai 
tuntunan. 
Pada acara Nyadran Giyanti tari Topeng Lengger dipertunjukkan pada malam hari sebelum ritual nyadran keesokan harinya oleh Sanggar Tari Sekar Budhaya Wonosobo. Beberapa wanita penari Lengger menari dengan penari pria yang memakai topeng. Menurut keterangan Dwi Pranyoto seorang seniman topeng yang dipakai penari mempunyai kekuatan mistik. Penari memakai topeng berbagai macam sesuai karakter tokoh yang diperankannya. Kemudian ada adegan dimana penari kesurupan ( trance ). Pertunjukkan tari Topeng Lengger merupakan gabungan dari tari Emblek, dan Lenggeran yang menyatu dalam suatu cerita. Pertunjukan berakhir pukul 01.00 wib.


Siang harinya tari Lengger dipertunjukaan di pendopo dengan format yang berbeda. Pertama dipertunjukkan Lengger asli yang ditarikan oleh laki-laki yang berperan sebagai perempuan karena menurut sejarah lengger berasal dari kata”leng” yang berarti anak laki-laki dan ”ger” berarti geger atau ramai yang pada awalnya tarian ini ditarikan seorang laki-laki dirias wanita sehingga membuat geger. Kemudian dilanjutkan penampilan tari Lengger garapan Dwi Pranyoto dengan penari wanita dan seorang pria yang pada waktu menari trance (kesurupan) dibantu 3 orang pawang atau dukun. Kemudian beratraksi makan bunga setaman dan semprong ( penutup lampu minyak dari kaca ). Pencipta menggabungkan tari Bondhan Rangu-rangu dalam sajian Lenggernya, penari lengger membawa boneka dan payung menari di atas pundak penari pria dengan berputar-putar. 

Perkembangan tari Lengger diharapkan dapat tetap melestarikan keberadaan tari itu sendiri dan tetap diminati semua masyarakat.

g. Wayang Kulit
Wayang mempunyai fungsi sebagai tontonan dan tuntunan yang didalamnya terdapat keindahan bentuk dan keindahan isi. Wayang kulit dalam arti lahir sebagai tontonan, dapat menjadi wayang purwa dalam arti batin yang berisi tuntunan. Hal ini debedakan karena fungsi kelir sebagai latar depan atau latar belakang. Wayang kulit dalam artian lahir yaitu kulit yang diprada dengan warna-warni. Kelir merupakan tempat dalang dan menjadi latar belakang boneka kulit yang arna-warni itu dan menjadi tontonan . Wayang Purwo dalam artian batin merupakan tuntunan. Kelir menjadi latar depan yang transparan dan menjadikan wayang kulit menjadi bayang-bayang kehidupan. Dalang dan wayang ada dibalik kelir.(Parmono,2008:99)
Demikian pula wayang kulit yang dipergelarkan dalam rangkaian acara ritual Nyadran dapat menjadi tontonan menarik serta tuntunan bagi masyarakat penikmatnya.Pertunjukan wayang kulit pada acara Nyadran Giyanti dipentaskan malam penutupan dari serangkaian acara di depan rumah Kadus desa Giyanti.
C. TRADISI UPACARA NYADRAN GIYANTI KAJIAN TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL
Kajian sosiologi dalam tradisi upacara Nyadran Giyanti akan penulis bahas dengan menggunakan teori fungsionalisme struktural. Teori Fungsionalisme stuktural dikembangkan oleh Talcott Parsons.Beberapa pokok pikiran penting dari Talcott Parson yang diuraikan oleh Bernard dalam bukunya Teori Sosiologi Modern (2007) sebagai berikut:


a) AGIL
Fungsi diartikan sebagai segala kegiatan yang diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan atau kebutuhan-kebutuhan dari sebuah sistem. Dengan menggunakan definisi ini Parsons dalam Bernard(2009:53) percaya bahwa ada empat persyaratan mutlak yang harus ada supaya termasuk masyarakat bisa berfungsi. Keempat persyaratan itu disebut AGIL adalah singkatan dari Adaptation (A), Goal Attainment(G). Intregation (I), dan Latency (pattern maintance) (L). Demi kelangsungan hidupnya, maka masyarakat harus menjalankan fungsi-fungsi tersebut yakni:
a. Adaptasi (adaptation): supaya masyarakat bisa bertahan dia harus menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dan dirinya.
b. Pencapaian tujuan (goal attainment):sebuah sistem harus mampu menentukan tujuannya dan berusaha mencapai tujuan-tujuan yang telah dirumuskan itu
c. Integrasi (integration):masyarakat harus mengatur hubungan diantara komponen-komponenya supaya dia bisa berfungsi secara maksimal.
d. Latency atau pemeliharaan pola-pola yang sudah ada. Setiap masyarakat harus mempertahankan, memperbaiki dan membaharui baik motivasi individu-individu maupun pola-pola budaya yang menciptakan dan mempertahankan motivasi-motivasi itu.
Keempat persyaratan fungsional itu mempunyai hubungan erat dengan keempat sistem tindakan berhubungan dengan fungsi adaptasi yakni menyesuaikan diri dengan lingkungan sesuai dengan kebutuhan. Sistem kepribadian melaksanakan fungsi pencapaian tujuan dengan merumuskan tujuan dan menggerakkan segala sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Sistem sosial berhubungan dengan fungsi integrasi dengan mengontrol komponen-komponen pembentuk masyarakat itu. Akhirnya sistem kebudayaan berhubungan dengan fungsi pemeliharaan pola-pola atau struktur-struktur yang ada dengan menyiapkan norma-norma dan nilai-nilai yang memotivasi mereka dalam berbuat sesuatu (Bernard, 2009: 54)
Tradisi Upacara Nyadran Giyanti ditinjau dari kajian fungsionalisme struktural Tallcot Parsons dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Adaptation ( Adaptasi )
Keberadaan upacara Nyadran Giyanti yang mampu bertahan sampai sekarang ini karena kemampuan masyarakat desa Giyanti yang selalu merupaya mengikuti perkembangan jaman serta menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya maupun lingkungan yang lebih luas. Hal ini terbukti dengan beberapa upaya pengembangan bentuk-bentuk visual rangkaian acara yang menyertai tradisi ini. Antara lain: tenongan yang pada awalnya hanya sekedar tempat jajan sekarang dimodifikasi dengan berbagai hiasan warna-warni sesuai kreativitas warga masyarakatnya dengan tujuan agar lebih menarik. Pertunjukkan yang mendukung tradisi Nyadran seperti tari Emblek juga mengalami perkembangan dari segi gerak – gerak yang lebih bervariasi, iringan yang sudah digarap sedemikian rupa untuk menarik penonton, kostum dan rias penari maupun penabuh gamelan juga dimodifikasi sedemikian rupa dengan tujuan meyesuaikan perkembangan jaman serta selera masyarakat yang terus berkembang. Pertunjukan tari Emblek juga mengalami perubahan baik gerak yang lebih variatif,penggunaan property yang visualnya diperindah misalnya kuda kepang yang digunakan diberi warna keemasan,kostum rias yang lebih meriah dan mewah. Upaya-upaya ke arah pengembangan yang dilakukan oleh masyarakat Giyanti merupakan wujud dari upaya adaptasi atau menyesuaikan dengan perkembangan jaman agar tradisi ini tidak hilang.
b. Goal Attainment ( Pencapaian Tujuan )
Pencapaian tujuan dari tradisi Nyadran Giyanti bagi masyarakat desa adalah berkaitan dengan fungsi ritual. Menurut sesepuh desa tradisi yang sudah berlangsung turun temurun ini mempunyai tujuan sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas segala limpahan berkahnya. Melakukan tradisi Nyadran sebagai ritual adat untuk tetap mengingat leluhur atau cikal bakal pendiri desa Giyanti. Rumusan tujuan tradisi ini berlangsung secara terus-menerus dan turun-menurun serta dipercayai membawa kebaikan bagi masyarakatnya. Tujuan pewarisan nilai-nilai sosial budaya sangat jelas dalam penyelenggaraan Nyadran di Giyanti. Pewarisan nilai-nilai untuk melestarikan budaya gotong royong, bekerja sama, saling membantu untuk sebuah tujuan tampak dalam proses persiapan sampai akhir kegiatan Nyadran di Giyanti.
c. Integration ( Integrasi )
Masyarakat harus mengatur hubungan di antara komponen-komponennya supaya dia bisa berfungsi secara maksimal. Tradisi Nyadran Giyanti memerlukan hubungan antara berbagai pihak, baik tokoh-tokoh masyarakat, pemuka-pemuka agama, seniman-seniman,maupun warga masyarakatnya. Prosesi Nyadran Giyanti dipandu oleh pemuka adat yaitu kepala desa Giyanti dan para sesepuh, pemuka-pemuka agama. Sedangkan tenongan dan rakanan menjadi tugas ibu-ibu serta remaja putri, kegiatan pertunjukkan kesenian diprakarsai oleh seniman-seniman daerah setempat. Kegiatan tradisi Nyadran Giyanti juga melibatkan Dinas Pariwisata daerah Wonosobo dalam upaya mempromosikan Nyadran Giyanti sebagai wisata budaya dan komoditi pariwisata yang turut mengharumkan nama kabupaten Wonosobo. Dengan demikian hubungan diantara komponen-komponen yang terlibat dalam tradisi Nyadran telah berfungsi secara maksimal. Pengintegrasian mempunyai makna penyatuan berbagai struktur yang terkait dalam kehidupan sosial, nilai solidaritas, kerjasama berbagai pihak ada di dalam kegiatan ini sehingga tujuan mengangkat desa Giyanti khususnya dan Wonosobo umumnya dalam perkembangan kepariwisataan dan budaya daerah dapat terwujud demi memperkuat keberadaan kebudayaan nasional.
d. Latensy ( Pemeliharaan Pola-pola yang Ada )
Pemeliharaan pola-pola yang sudah ada dilakukan oleh masyarakat Giyanti dengan tetap memelihara betuk asli tradisi Nyadran seperti pola yang sudah diwariskan secara turun – temurun dalam arti masyarakat mampu mempertahankan keaslian tradisi Nyadran ini kemudian memperbaiki dan membaharui dalam bentuk pengembangan kegiatan yang menyertai tradisi Nyadran seperti; festival Emblek, Tenongan, dan pertunjukkan Lenggeran.Menurut Soedarsono ( 1985:4), seni pertunjukan memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan manusia .Demikian juga dengan seni pertunjukan yang menyertai tradisi Nyadran Giyanti. Selain bentuk-bentuk visual hal yang tidak kalah penting adalah motivasi-motivasi masyarakat desa Giyanti yang selalu dipupuk subur untuk tetap mempertahankan tradisi Nyadran sebagai warisan adat budaya nenek moyang.
Hal-hal dalam penyelenggaraan Nyadran Giyanti berkaitan dengan latensi atau pemeliharaan pola yang sudah ada selain bentuk fisik atau visual juga terdapat nilai-nilai etis, nilai estetis, nilai edukatif serta nilai filosofis yang mendalam sehingga tidak akan hilang meskipun dihadapkan pada masyarakat yang semakin global.
Menurut Parsons dalam Barnard (2009:55) sosialisasi terjadi ketika nilai-nilai yang dihayati bersama dalam masyarakat diinternalisir oleh anggota-anggota masyarakat itu. Dalam hal ini anggota-anggota suatu masyarakat membuat nilai-nilai masyarakat menjadi nilai-nilainya sendiri. Sosialisasi mempunyai kekuatan integratif yang sangat tinggi dalam mempertahankan kontrol sosial dan keutuhan masyarakat.Seni yang membaur di dalam upacara tradisi Nyadran juga sebagai media komunikasi seperti yang diungkapkan oleh Dharsono bahwa seni bermakna komunikasi (2007:50)

D. KESIMPULAN DAN SARAN
Pembahasan tradisi Nyadran Giyanti dari kajian fungsionalisme struktural dapat membuka wawasan kita bahwa keberadaan seni budaya, kelanggengan tradisi suatu masyarakat menjadi tanggung jawab bersama berbagai pihak. Tradisi Nyadran Giyanti tetap bertahan dengan berbagai upaya adaptasi dengan perkembangan jaman. Keberlangsungan tradisi ini juga dipengaruhi oleh kebermaknaan upacara Nyadran yang berfungsi ritual. Integrasi dari berbagai pihak baik masyarakat, seniman, pemuka adat, tokoh agama serta dinas pemerintah terkait memperkuat tetap lestarinya adat tradisi Nyadran Giyanti.
Pemeliharaan pola-pola yang sudah ada seyogyanya tetap dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya dengan harapan tradisi Nyadran Giyanti sebagai heritage dapat dikenal masyarakat secara luas serta mampu bertahan di tengah derasnya era globalisasi.




DAFTAR PUSTAKA

Dharsono. 2007. Estetika. Bandung: Rekayasa Sains


Giri, Wahyana. 2010. Sajen dan Ritual Orang Jawa.Yogyakarta: Narasi

Herusatoto, Budiono.1987. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: 
Hanindita.

Purwadi. 2009. Folklor Jawa. Yogyakarta: Pura Pustaka.

Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka.


Triwikromo, Argo, Y. 2006. Mitologi Kanjeng Ratu Kidul. Yogyakarta:
Nidia Pustaka.
Semoga artikel Nyadran di Giyanti Wonosobo:Kajian Fungsional Struktural bisa menambah wawasan bagi sobat mbudayajawa yang mampir kesini, kalau sobat mbudaya jawa mempunyai cerita tentang tradisi, kesenian, budaya yang terdapat di daerah sobat mbudayajawa bisa langsung di kirimkan ke mengenalbudayajawa@gmail.com

Jangan lupa klik tombol di bawah ini untuk share ke teman-teman dan bersama kita lestarikan budaya kita sendiri agar tidak hilang oleh jaman.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter